Kumpulan Puisi

JEBAT

                Telah kau hunus keris
            telah kau tusuk dendam
        telah kau bunuh dengki
    tetapi, siapakah yang telah mengalahkan mu

            Kami hanya menyaksikan luluh rasa murka mu
        celup cuka cemburu mu
        kubur rasa cinta mu
        di bayang-bayang hari mu

        Kami hanya menyaksikan waktu
                       menghapus jejak darah mu
         angin menerbangkan setanggi mimpimu
        ombak menelan jejak nisan mu
        di balik cadar mimpi-mimpi mu

                   Kami semua telah mengasah keris
          telah menusuk dendam
               membunuh dengki
        meruntuhkan tirani

                    Tapi siapa yang telah
                        mengalahkan kami
            Menumbuhkan khianat
        melumatkan sesahabat
        mempusarakan sesaudara

                Kami hanya menyaksikan waktu
                        yang berhenti bertanya
        sejarah yang berhenti
                        ditulis
        dan kita
                         hanya membangun
                          sebuah arca

        [2002]

...
DISEBERANG GEDUNG PUTIH

    Bill,
        Ada beratus-ratus orang
        di seberang taman
        membangun tenda
        memasang pamplet
        menghadapkan muka
        mendedahkan dada
        meneriakkan beribu kata

            Adakah kau di sana
    mendengarnya?
    tapi pintu pagar mu
    menelan suara
    Aku juga disitu
    di depan gerbang mu
    mengunjuk puisiku
    membacakan petisiku:
    Indonesia tanah air ku
    tanah tumpah darah ku
    di sanalah aku berdiri
    jadi pandu ibuku


    Mungkin kau disitu
    mengambil tahu
    tapi pintu pagar mu
    menatap bisu

Bill,
        Ada beratus-ratus orang
        di seberang taman
        melambaikan tangan
        mengucap salam
        menunggu jawaban dari dalam
        meskipun kau tetap diam
        meskipun kami percaya
        sekali sekala kau sibak jendela
        menangkap perubahan cuaca
        sambil berkata :
                Mereka harus mendengar Amerika!

Dan aku juga disitu
    di depan gerbang mu
    menangkap harum bunga
    dan apak rumput
    mendengar cicit tupai
    dan daun maple
    mencium bauk arak
    dan sendawa pemabuk
    sambil menambah alinea petisiku :
    Indonesia tanah air beta
    Negeri kaya, Zamrud khatulistiwa
    Disanalah kami terlena

    [2001]

...
DI STOCKHOLM


KEPADA : DI

    Dari sebuah taman di Stockholm, suatu petang
    kita menyaksikan monumen sebuah jangkar
    di antara pelabuhan dan tiang-tiang perahu
    dan kau berkata :

        Seberapa jauh kita berlayar
        kita harus sampai
        harus melabuh sauh
        dan turun ke pelabuhan
        tapi jangan menoleh ke belakang
        sebab di belakang adalah laut
        sebab laut adalah misteri
        yang menyimpan rindu
        yang mengeram takut
        yang menulis cinta
        yang memendam benci
          Dari sebuah taman di Stockholm, suatu petang
          kita memandang cuaca dan gemerisik angin
          dan kau berkata :
        Seberapa jauh kita berlayar
        kita harus menyimak cuaca
        kita harus menghitung angin
        tapi jangan menoleh ke belakang
        sebab di belakang adalah sepi
        sebab sepi adalah misteri
        yang menyimpang dendam
        yang membunuh mimpi



        [2000]

...

Kumpulan Buku

Novel Bulang Cahaya ini, ditulis dengan setting daerah Kepulauan Riau sampai ...
Alhamdulillah, kumpulan puisi ini akhirnya berhasil diterbitkan. ...
Dua puluh tahun lalu, ketika Yayasan Puisi Nusantara yang dipimpin penyair Ib ...

NOMINATOR RIDA AWARD 2010

Karya Tulis Jurnalistik

  1. Menelusuri Jejak Surga Ikan di Indonesia, Panipahan Sinaboi
    >> Purnimasari (Riau Pos)
  2. Mengintip Kehidupan Anak Jalanan Simpang Lampu Merah SKA
    >> Nuke Fatmasari (Pekanbaru Pos)
  3. Catatan dari Lokasi Gempa Sumatera Barat
    >> Afni Sulkifli (Pekanbaru Pos)
  4. Konflik Gajah dan Manusia di Bengkalis
    >> M Sondra Al Hafidz (Dumai Pos)
  5. Penyalahgunaan Anggaran di Natuna
    >> M Iqbal dan Cipi Ckandina (Batam Pos)
  6. Menggali Kubur Untuk Anak Cucu
    >> Abdul Hamid (Batam Pos)
  7. Dan, Sejarah Bintan pun Harus Ditulis Ulang
    >> Bobby Patria (Tanjungpinang Pos)
  8. Duka Damabancah, Dusun yang Hilang Selepas Gempa
    >> Fajar R Vesky (Padang Ekspres)
  9. Mempertahakan Sifat Tradisonal di Baringin Merapi
    >> Fajar Hidayat (Posmetro Padang)
  10. Praktik Pelacuran di Kalangan ABG Kota Medan
    >> Herdiansyah (Sumut Pos)
  11. Gadis 19 Tahun Jadi Nenek 70 Tahun
    >> Arnes dan Irvan Nasution (Posmetro Medan)
  12. Melongok Kehidupan Warga Transmigran di Rawa Kolang, Tapteng
    >> Dame Ambarita (Metro Tapanuli)

Karya Foto Jurnalistik

  1. Ciuman Terakhir Sebelum Pergi
    >> Ar-razy Aditya (Posmetro Batam)
  2. Fia Anggreksa, Penderita Kelainan Mata
    >> Cipi Ckandina (Batam Pos)
  3. Pakai Gerobak
    >> Syamsu Ridwan (Padang Ekpres)
  4. Proses Evakuasi
    >> Emmanuel Sebayang (Batam Pos)
  5. Gajah Liar Masuk Pemukiman
    >> Ira Widana (Dumai Pos)

Nominator Karya Foto Jurnalistik

Karya :Arrazy aditya - POS Metro Batam
Judul :Ciuman Terakhir Sebelum Pergi.

Nominator Karya Foto Jurnalistik

Nominator Karya Foto Jurnalistik

Karya : Syamsu Ridwan - Padang Ekspes.
Judul :Pakai Gerobak

Nominator Karya Foto Jurnalistik

Nominator Karya Foto Jurnalistik

karya: Ira Widana - Dumai Pos
Judul: Gajah liar masuk Pemukiman.

Nominator Karya Foto Jurnalistik

Nominator Karya Foto Jurnalistik

Karya : Emmanuel Sebayang - Batam Pos
Judul :Proses Evakuasi.

Nominator Karya Foto Jurnalistik

Pemenang Karya Foto Jurnalistik

karya : Cipi Ckandina. (Batam Pos)
Judul : Fia Anggreksia - Penderita Kelainan Mata

Pemenang Karya Foto Jurnalistik
Nominator Karya Foto Jurnalistik
Nominator Karya Foto Jurnalistik
Nominator Karya Foto Jurnalistik
Nominator Karya Foto Jurnalistik
Pemenang Karya Foto Jurnalistik

Rida K Liamsi

Rida mungkin telah ditakdirkan menjadi Raja Media di Sumatera Bagian Utara. Sukses dengan bisnis media, Rida seperti menggelinding ke dunia bisnis .Meski begitu sibuk degan berbagai kegiatan kewartawanan dan juga bisnisnya, ternyata Rida tak pernah lepas dari dunia kesusastraan dan perhatiannya terhadap pelestarian dan pengembangan budaya Melayu


Jurnalistik  Rida Award 2010
28 Agustus 2010 - 13.46
Nominator Rida Award 2010
 
  

Sekolah Lokal Jauh Hanya Tiga Kelas, Butuh Sumbangan Buku dan Beasiswa

Empat tahun sejak lahan transmigran Rawa Kolang dibuka, sekolah sama sekali belum ada. Atas usaha Edy Saputra (saat itu pegawai RRI), tahun 2004 akhirnya ada Sekolah Lokal jauh di Balai Desa. Tiga tahun kemudian, barulah didirikan bangunan sekolah tiga ruangan. Tenaga pendidik dua orang, direkrut dari warga trans sendiri. Gaji awal kadang tak sampai Rp100 ribu sebulan.

DAME AMBARITA, RAWA KOLANG


Jurnalistik  Rida Award 2010
28 Agustus 2010 - 13.28
Nominator Rida Award 2010
 
  

Air Coklat Kehitaman Kelebihan Magnesium, Itupun Dikosumsi Juga

Kerasnya kehidupan warga transmigran di Rawa Kolang tak hanya soal kegagalan dalam bertani. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih saja, mereka harus rajin-rajin berharap hujan turun. Kalau hujan tak turun, ya terpaksa konsumsi air parit yang berwarna coklat kehitaman, dan konon kata para ahli si PDAM, mengandung magnesium di atas ambang batas. Ck ck ck!

DAME AMBARITA, RAWA KOLANG   


Jurnalistik  Rida Award 2010
27 Agustus 2010 - 13.16
Nominator Rida Award 2010
 
  

8 Tahun Bertahan di Lahan Bekas Rawa, Ubi pun Ogah Berbuah

Sudah delapan tahun lebih lamanya, ratusan warga transmigran mencoba bertahan hidup di Rawa Kolang, Tapanuli Tengah. Tahun-tahun pertama, semangat ‘bertarung’ melawan kerasnya alam di atas lahan gambut itu masih membuncah. Tahun kedua, puluhan keluarga menyerah dan memilih hengkang. Awal 2009, tinggal 40-an KK yang bertahan. Itupun karena tak punya pilihan yang lebih baik.

DAME AMBARITA,  RAWA KOLANG


Jurnalistik  Rida Award 2010
27 Agustus 2010 - 11.30
Nominator Rida Award 2010
 
  

Ketika Kapal Pompong Berjuang Melawan Trawler

Laporan PURNIMASARI, Bagansiapi-api purnimasari@riaupos.com

Pemasok ikan terbesar di Bagansiapi-api sebenarnya ada tiga. Yakni Panipahan, Pulau Halang dan Sinaboi. Dari ketiga tempat ini, Panipahan adalah yang terbesar. Namun, meski berada di tengah surga ikan itu, kini para nelayan tempatan menjerit melawan deraan pukat harimau. Tidak hanya dari nelayan provinsi tetangga seperti Sumatera Utara dan Aceh, namun juga bertanding melawan Popeye si pelaut dari luar negeri seperti Thailand dan Malaysia.


Komentar

Oleh : edi jaafar >> salam putra melayu

saya termasuk putra melayu yang bangga dg budayany dan senang membaca sejarah melayu.namun dalam berbagai refe -


Oleh : Tengku Shawal Aziz >> Sumpah Setia Melayu dan Bugis

Sedih pilu jiwa dan raga,Perihal anak2\r\nberdarah amirulmukminin.Masa sampai kini anak cucu masih lagi berset -


Oleh : damri >> news

jadilah pulau air raja pulang yang ramai -


Nominator Rida Award 2010
Dulu, Sambil Tidur pun, Dapat Ikan Segunung Di era baru kemerdekaan atau tahun 1945-an, siapa yang tak kenal nama Bagansiapi-api? Inilah daerah ...
Selengkapnya...
++ Lainnya

Menjadi Guru

Dalam tradisi kebudayaan Melayu, seseorang yang memilih menjadi  “pendekar “, berarti memilih “jalan keris“. Sama halnya dengan tradisi dalam budaya Jepang, bilam ...

Selengkapnya...
++ Lainnya

*Juarai Festival Musikalisasi Puisi Tingkat SLTA Se-Sumatera


Telah kau hunus keris
    telah kau tusuk dendam
    telah kau bunuh dengki
    tetapi, siapakah yang telah ...

Selengkapnya...
++ Lainnya

Satu Tahun Batam Pos Entrepreneur School (BPES)

Hari ini, 17 Juli 2010, Batam Pos Entreprenur School (BPES) berusia satu tahun. Diusianya yang masih muda, BPES sudah mendapat pengakuan sebagai institusi yang peduli pada usah ...

Selengkapnya...
++ Lainnya