Bisnis  RDK Gandeng Saudagar Melayu Budaya  Wapres Jusuf Kalla Bersedia Hadir Pada Acara Perhelatan Tamadun Melayu Antar Bangsa di Lingga Jurnalistik  Dua Tokoh Pers Raih Anugerah, Ramon Moderator Nasional Sahabat  Puisi dari Komunitas Penyair Asean - Korea Aktifitas  Gubernur Kembali Cari Klub di Liga 2 Profil  Sebesar Apa Naga dalam Diri Kita

Rida mungkin telah ditakdirkan menjadi Raja Media di Sumatera Bagian Utara. Sukses dengan bisnis media, Rida seperti menggelinding ke dunia bisnis .Meski begitu sibuk degan berbagai kegiatan kewartawanan dan juga bisnisnya, ternyata Rida tak pernah lepas dari dunia kesusastraan dan perhatiannya terhadap pelestarian dan pengembangan budaya Melayu
 

MAKALAH

Download

Download

Home / Budaya

PIDATO PENERIMAAN GELAR KEHORMATAN ADAT MELAYU DATUK SERI LELA BUDAYA

Melayu Harus Tetap Bertapak di Tengah Gemuruh Zaman

Kamis, 17 Maret 2016 10:02 | Budaya


Alhamdulillah! Marilah terlebih dahulu kita berserah diri kehadirat Illahi Rabbi dan memanjatkan rasa syukur yang sedalam-dalamnya, karena atas kehendak dan karunia-Nya lah kita semua diberikan kesehatan, dapat berhimpun di majelis yang mulia ini, dan saya pada hari ini dapat berdiri di sini, mendapat kehormatan dan diberi gelar kehormatan adat Melayu: Datuk Seri Lela Budaya, oleh Lembaga Adat Melayu Riau. Oleh karena itu pula, selanjutnya, izinkan saya menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Lembaga Adat Melayu Riau yang telah berkenan memberikan saya gelar yang terhormat ini, yang saya sendiri tidak menyangka akan memperolehnya. Karena itu pula saya berharap agar senantiasa diberi ampunan oleh-Nya, terhindar dari sikap takabur dan kufur atas nikmat yang telah diberikan-Nya. Saya ini hanyalah seorang anak Melayu, daif, dan kalau bukan karena kehendak-Nya, saya ini bukanlah siapa-siapa.

Gelar kehormatan adat yang saya terima pada hari ini, pada hakikatnya adalah gelar dan kehormatan untuk kita semua. Orang-orang Melayu yang sampai hari ini masih terus menerus berjuang dalam menegakkan harkat, martabat dan eksistensi kita di tengah cabaran berbagai perubahan dan tantangan hidup. Sebagaimana rumpun-rumpun bangsa lainnya, kita sekarang hidup di tengah zaman yang terus berubah. Terus bergerak ke depan, dan terus berhadapan dengan berbagai cabaran. Perubahan dan cabaran di era kita saat ini, luar biasa cepat dan besarnya, karena telah didorong dan digerakkan oleh revolusi teknologi informasi, yang mengubah semuanya dalam sekelip mata, termasuk nilai-nilai kehidupan yang azazi dan mulia.

Era yang demikian ini, membuat kita semua harus semakin tangguh dan tanggap. Karena hanya rumpun bangsa yang tangguh dan tanggap itulah yang akan terus eksis dan berjaya, yang mampu melintasi zaman. Kita bersyukur, karena tamadun Melayu yang sudah ujud sejak ribuan tahun itu, telah mewariskan kepada kita nilai-nilai kehidupan yang senantiasa selaras dan sejalan dengan kehendak zaman. Nilai-nilai yang membuat kita semua dengan bangga dapat mengatakan, Takkan Melayu Hilang di Bumi. Filosofi besar ini, yang diwariskan Laksamana Besar Hang Tuah itu, ujud dan berkembang, karena orang-orang Melayu memegang teguh prinsip hidupnya: tumbuh bersama dalam kebersamaan.

Kita menyadari  betapa beratnya rumpun Melayu di Indonesia ini untuk tetap tegak dan berjalan bersama rumpun bangsa lainya, dalam kebersamaan menegakkan harkat dan martabat kita. Sebagai negeri yang berbilang kaum, adat istiadat,  budaya dan agama, Indonesia telah menegaskan bahwa kebudayaan nasional Indonesia adalah himpunan puncak-puncak kebudayaan daerah yang hidup, tumbuh dan berkembang. Sebagai salah satu puncak kebudayaan, kita menyadari di mana tempat, posisi dan kekuatan kebudayaan Melayu di Indonesia.

Kita mungkin bukan puncak kebudayaan tertinggi di negeri ini, karena realitas sosial, politik dan ekonomi saat ini memang belum menempatkan kita pada posisi yang ideal. Namun kita semua menyadari, kejayaan dan kebesaran suatu rumpun bangsa, bukanlah semata-mata ditentukan oleh besarnya jumlah populasi, bukan semata karena besar dan luasnya wilayah dan kekuasaan yang dimiliki, tetapi juga ditentukan oleh nilai-nilai kemulian yang dimiliki oleh budaya suatu rumpun bangsa. Dan sejarah telah menunjukkan betapa tinggi dan luar biasanya nilai-nilai budaya dan kehidupan yang dimiliki oleh rumpun bangsa Melayu ini. Betapa berharganya sumbangan-sumbangan kebudayaan yang telah diberikan dan diwariskan kebudayaan Melayu sebagai salah satu kekuatan kebudayaan nasional.

Contoh yang paling nyata, kukuh dan tegak saat ini, adalah sumbangan bahasa Melayu kepada kebudaayaan nasional Indonesia sebagai kekuatan pemersatu. Tak terbayangkan oleh kita, bagaimana jadinya bangsa ini saat-saat akan mendeklarasikan kemerdekaannya, di negeri yang terdiri dari berbagai suku bangsa, adat istiadat, agama dan bahasa-bahasa daerahnya, akan menjadi satu bangsa, satu negara yang merdeka, jika tidak ada bahasa sebagai pemersatunya. Sampai saat ini, banyak contoh negara-negara yang sudah merdeka secara politik, namun tetap terpecah belah dan dihantui oleh perang saudara, karena benturan budaya, karena tak mampu menemukan satu alat pemersatu, sarana untuk menembus kebuntuan komunikasi antarwarganya. Syukurlah, akhirnya bahasa Melayu yang dalam perjalanan sejarahnya telah berkembang begitu pesat dan modern, melebihi bahasa-bahasa rumpun lainnya, diterima dan dijadikan bahasa persatuan. Tonggak pemersatu bangsa Indonesia yang diujudkan dalam prasasti sumpah pemuda itu, ujud dalam satu semangat: bangsa Indonesia, tanah air Indonesia, direkat dan disatukan oleh satu bahasa, yaitu Bahasa Indonesia yang urat nadi darah penyatunya adalah Bahasa Melayu.

Warisan kebudayaan yang demikian hebat dan kuat, tentulah lahir dari rumpun bangsa yang hebat dan kuat pula, sehingga warisannya bisa bertapak di mana-mana, menjelajah kehidupan apa saja, dan diberdayakan di arena kehidupan di mana saja. Kontribusi Bahasa Melayu itu, ketika bergerak jadi arus sejarah bersama agama Islam, telah menjelajah seluruh kawasan nusantara ini, dan telah mengubah seluruh peta dan perilaku kehidupan bangsa ini. Baik di dunia pendidikan, ekonomi, sosial dan poilitik.

Bahasa Melayu telah menjadi kekuatan yang mengubah, mempengaruhi, dan memecah kebuntuan komunikasi, yang menjadi prasarat utama terjadinya persatuan dan perubahan kehidupan untuk maju ke era yang lebih baik. Itulah salah satu jejak dan sumbangan kebudayaan Melayu terhadap kebudayaan nasional Indonesia yang tidak bisa dihapus dari sejarah. Dan masih banyak sumbangan dan warisan kebudayaan Melayu lainnya, yang diakui atau ikut menentukan nilai, arah dan perjalanan bangsa ini. Dari khazanah kesusasteraan misalnya, rumpun Melayu ini telah memberi Gurindam XII karya almarhum Raja Ali Haji, Tunjuk Ajar Melayu karya almarhum Tenas Effendy, yang kandungan nilai dan kemuliaan hidup menjadi sumber pembelajaran dan inspirasi bangsa ini untuk maju ke depan. Tradisi literasi modern Indonesia sekarang ini, bermula dari tradisi literasi negeri Melayu. Dari tamadun Melayu.

Saya rasa itulah tugas terberat kita para pewaris tradisi dan peradaban Melayu itu. Memelihara, merawat, membesarkan, dan mewariskan lagi nilai-nilai baru yang sesuai dengan kehendak zaman. Hanya kaum, hanya rumpun bangsa yang terus menerus memberi kekuatan jati diri, harkat dan martabatnya lah yang akan tetap eksis, dan tidak akan punah. Dan kebudayaan Melayu itu, insya Allah tidak akan punah. Bukan saja karena rumpun bangsa ini tetap mampu melintasi zaman, juga karena kulturnya, peradabananya, adalah peradaban yang bersebati dengan Islam. Selagi Islam tegak, maka Melayu itupun tegak, dan takkan hilang di dunia ini.

Dalam bentangan pemikiran yang demikianlah itulah saya menempatkan diri saya sebagai seorang Melayu, seorang pewaris tamadun yang besar. Karena itu, meski hanya sesayat, meski hanya seulas, meski hanya setetes, meski hanya sesendok, saya ingin memberikannya pada negeri ini, pada bangsa ini, pada rumpun bangsa ini, pada negeri Melayu ini. Agar harkat, martabat dan kebesaran Melayu itu tetap ujud dan bertapak di tengah gemuruh zaman ini. Dari diri seorang Rida K Liamsi, tentulah harapan besar itu, akan sulit terujud. Tetapi, kita telah mewarisi sebuah tradisi dan nilai hidup kemelayuan, tumbuh bersama dalam kebersamaan, dan dengan semangat itu tentulah mimpi besar itu bukan mustahil akan tetap terujud. Filosofi besar yang diwariskan oleh Laksamana Hang Tuah: Esa hilang dua terbilang, patah tumbuh hilang berganti, takkan Melayu hilang di bumi, adalah inti dari sikap entrepreneurship. Inti dari sikap bangsa yang akan tetap sanggup menghadapi cabaran zaman, yaitu sikap yang mandiri, kreatif dan visioner. Mari kita renungkan filosofi itu, dan kita bayangkan betapa hebatnya orang Melayu itu. Subhanallah !***

Pekanbaru, 16 Maret 2016.

Pidato yang disampaikan pada acara penerimaan gelar kehormatan adat Melayu Datuk Seri Lela Budaya, di Gedung Lembaga Adat Melayu Riau.

 


++ Lainnya »

++ Indeks »