Bisnis  RDK Gandeng Saudagar Melayu Budaya  Lingga, Jejak dan Warisanya dalam Tamaddun Melayu Jurnalistik  Nilai Seorang Wartawan Adalah Tulisan Sahabat  Puisi dari Komunitas Penyair Asean - Korea Aktifitas  Ulang Tahun dan Menerbitkan Buku Luka Sejarah Husin Syah Profil  Sebesar Apa Naga dalam Diri Kita

Rida mungkin telah ditakdirkan menjadi Raja Media di Sumatera Bagian Utara. Sukses dengan bisnis media, Rida seperti menggelinding ke dunia bisnis .Meski begitu sibuk degan berbagai kegiatan kewartawanan dan juga bisnisnya, ternyata Rida tak pernah lepas dari dunia kesusastraan dan perhatiannya terhadap pelestarian dan pengembangan budaya Melayu
 


Home / Budaya

PELUNCURAN NOVEL KARYA RIDA K LIAMSI

Tuah Indonesia dalam 'Megat'

Minggu, 13 November 2016 08:20 | Budaya

BEDAH NOVEL: Maman S Mahayana, kritikus sastra Indonesia menyampaikan berbagai hal terkait Novel Megat karya Rida K Liamsi yang dibedah di VIP Lounge Perpustakaan UI, Kamis (10/11/2016).HPI FOR RIAU POS


"Mewariskan sejarah, puak atau kebudayaan,  adalah kewajiban. Karya sastra adalah jalan pilihan. Konteksnya  ke-Indonesia-an, ke-kini-an, dengan nilai kebangsaan. Lebih luas. Dan, ‘Megat’, semangat kebenaran yang tersimpan."


MEGAT Membunuh raja. Megat disebut pendurhaka. Padahal, Megat sang pemberani dan pembela kebenaran.   Megat Menuntut hak sendiri atas nama kebenaran sejati. Dengan tangan dan kaki sendiri. Kesumatnya mengubah alur sejarah. Menjadi kisah panjang dalam catatan para penulis. Menjadi buah bibir dari zaman ke zaman. Keberanian yang menjadi teladan. Menjadi keyakinan bahwa yang salah harus disanggah. Kezaliman harus ditumpas. Siapapun pemegangnya. Raja, penguasa atau siapapun dia.

Semangat juang, keberanian, pantang menyerah, pembelaan pada yang benar itulah yang terpatri dalam diri Megat, pahlawan Melayu di zaman kerajaan Johor bertahta. Ia membunuh Raja demi menghentikan kezaliman dan tindak semena-mena yang terus berkuasa. Bahkan anak dan istrinya dibunuh hanya karena idamkan seulas nangka saat ia sedang berjuang membela keselamatan Raja, istana dan rakyat jelata.  Upah yang menyakitkan. Balasan berbuah dendam.

Sejarah keberanian Megat ini ditulis dalam karya sastra, sebuah novel berjudul ‘Megat’ oleh Rida K Liamsi. Sastrawan, budayawan yang tunak membesarkan ke-Melayu-an tanpa henti ini juga telah melahirkan banyak karya. Di antaranya, kumpulan puisi Tempuling (2003), kumpulan puisi perjalanan Kelekatu (2007), kumpulan puisi dwi bahasa Rose (2013), novel sejarah Bulang Cahaya (2008) dan buku semi sejarah prasasti Bukit Siguntang dan Badai Politik di Kemaharajaan Melayu 1160-1946 (2016).

Rida juga penggagas Hari Puisi Indonesia (HPI), tunak mengapresiasi seniman sastrawan Melalyu melalui  Anugerah Sagang oleh Yayasan Sagang yang didirikannya, penerima banyak anugerah kesusasteraan. Karena ketunakannya membesarkan Melayu yang tiada henti, kecintaannya pada Melayu hingga ke mati, lelaki kelahiran Bakong, Singkep, Kepulauan Riau 17 Juli 1943 inipun  dianugerahi gelar istimewa Datok Seri Lela Budaya oleh Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau (2015).

Jurnalis yang gigih dalam berniaga, pebisnis handal yang membawa namanya kian membahana, semakin mengukuhkan semangatnya dalam menularkan virus kesantunan, keramahan, kesungguhan, keberanian, kepedulian dan perjuangan membela kebenaran sebagai jati diri anak Melayu kepada generasi penerus

di tanah  Indonesia. Megat adalah Megat. Berharap selalu ada Megat yang terus lahir dengan sosok yang gagah, berani, kritis, peduli dan menjunjung makna kebenaran hakiki.

Sudah banyak sastrawan, penulis, pengarang dari berbagai negara menuliskan kisah Megat dan perjuangannya. Tapi, Megat karya Rida telah dinanti banyak orang. Tak heran jika buku setebal 521 halaman yang diterbitkan Yayasan Sagag di ruang VIP Lounge Perpustakaan Universitas Indonesia (UI) Kamis lalu ini dihadiri banyak orang, banyak pengarang, penulis dan penyinta sastra. Semua berkumpul. Tua muda. Pelajar atau mahasiswa. ‘Megat’ dilahirkan, diluncurkan, digaungkan, dibedah dan dibicarakan.

Di tangan sastrawan Hasan Aspahani sebagai nakhoda bedah buku hari itu, suasana semakin hidup. Yang bertanya semakin girang, yang diam semakin faham. Santai, tapi serius. Maman S Mahayana, kritikus sastra Indonesia sebagai pembicara, membuat suasana semakin bergairah. Maman, menjelaskan, Megat akan menjadi pemersatu faham tentang Melayu Nusantara.

‘’’Megat’ merupakan novel sejarah Melayu Nusantara. Bagi saya yang orang sunda, atau Anda yang dari Jawa, Sulawesi, Papua dan lainnya, novel ini bisa menjadi jembatan untuk lebih faham budaya Melayu Nusantara yang menjadi bagian penting terbentuknya Indonesia,’’ kata Maman saat itu.

Membedah ‘Megat’, tak lagi membicarakan konteks kedaerahan, tapi lebih luas, nusantara, ke-Indonesia-an.  Mendalami ‘Megat’, berarti juga mendalami kegigihan juang seorang Melayu, mendalami kegigihan jiwa seorang Indonesia.  Membaca ‘Megat’ juga sangat asyik, kata Maman. Ceritanya menarik hingga ke akhir. Antara satu bab dengan bab lain memiliki keistimewaan sehingga pembaca ingin menuntaskan hingga benar-benar tuntas.

‘’Sekali lagi, budaya Melayu menjadi bagian penting terbentuknya Indonesia. Bahasa Indonesia dari Bahasa Melayu. Begitu pentingnya. Bahasa dan budaya Melayu itu, menempel dalam ‘Megat’. Bukunya asyik. Ceritanya menarik. Cara tulisnya memikat sehingga kalau sudah membaca, rugi rasanya kalau tidak sampai habis,’’ sambung Maman.

Begitu juga dengan  Putu Fajar Arcana, redaktur budaya Harian Kompas yang juga menjadi pembedah sore itu. Komentarnya semakin memahamkan betapa asyiknya belajar sejarah Melayu melalui sebuah cerita dalam karya novel. Budaya maritim sejak dulu memang banyak dihidupkan oleh kerajaan-kerajaan Melayu. Jauh lebih terlihat dibandingkan kerajaan-kerajaan di daerah lain.

‘’Budaya maritim yang kini sedang ingin ditumbuh-kembangkan lagi oleh pemerintah Indonesia, sesungguhnya dulu dihidupkan oleh kerajaan-kerajaan Melayu di Nusantara. Dan ini tak tampak dilakukan oleh kerajaan-kerajaan besar di Jawa semisal Singasari dan Majapahit,’’ ujar Putu Fajar pula.

Sebagai sesama jurnalis, Putu Fajar menyebut Rida sangat lihai mengambil sisi menarik sebuah cerita. ‘’Sudut pandang wartawan itu tajam. Sangat jeli. Ia tahu dari mana harus mulai menulis dengan bagus dan menarik. Biasa mencari sisi tulisan yang menarik. Makanya ‘Megat’ juga memiliki keistimewaan. Mengalir dan asyik,’’ sambung Putu lagi.

Selain para seniman dan penyair, anggota DPR RI Komisi X, H Nuroji, juga hadir dalam peluncuran buku tersebut. Sedangkan para penyair yang hadir antara lain,  LK Ara, Mustafa Ismail, Soetardji Calzoum Bachri (SCB), Ewith Bahar, Fatin Hamama, Ariany Isnamurti,  Ade Novi, Ketua Yayasan Sagang Riau Kazzaini Ks , Dharwami Kahar,  Ace Sumanta serta Asrizal Nur yang membacakan cuplikan Novel ‘Megat’ tersebut. Tak ketinggalan, mahasiswa Riau, UI, mahasiswa Uhamka serta dosen-dosen, juga turut memenuhi ruang VIP perpustakaan UI itu.

Presiden penyair Indonesia, Soetardji Calzoum Bachri yang hadir saat itu, turut menyampaikan elu-eluan. Menurutnya, Rida, maupun sastrawan yang lain memang harus  memperkokoh persatuan NKRI dengan karya-karya sastranya. ‘’NKRI bukan harga mati, tapi harga hidup. Menghidupkan itu salah satunya dengan membuat karya seperti ‘Megat’ sehingga lebih hidup lebih bergairah. Sastrawanlah yang membuat Indonesia lebih hidup,’’ kata Tardji saat itu.

Rida memang sosok yang mencintnai sejarah. Bulang Cahaya, novel pertamanya juga diangkat dari sejarah. Begitu juga dengan Megat. Meski sama-sama mengangkat sejarah Melayu, Megat berbeda dengan Bulang Cahaya.’’Bedanya, kalau Bulang Cahaya itu (kisahnya) kebanyakan di Kepulauan Riau. Sementara Megat di semenanjung Malaysia, Siak, dan Bintan,” ujar Rida.

Dikatakan Rida, meski Megat itu novel (fiksi), Ia berusaha untuk sedekat mungkin dengan fakta. Baik itu lokasi, nama, dan peristiwa. ‘’Walau pun ada yang imajinatif ya terutama tokoh-tokoh pendukungnya,’’ sambungnya.

Novel Megat mulai ditulis sejak dua tahun lalu setelah melakukan riset tak kurang dari empat tahun. Kemana-mana pergi, Rida selalu menyempatkan diri untuk mencari buku-buku atau informasi mengenai Megat Seri Rama, tokoh dalam novel itu. ‘’Aku ke Malaysia juga, Johor, terutama Kota Tinggi tempat pembunuhan itu terjadi. Lalu ke Gunung Bintan, tempat asal Megat, ke Melaka dan lain-lain. Kebanyakan riset pustaka. Sambil riset, ya sambil nulis. Kadang-kadang menulis di Melaka juga sambil minum teh tarik. Dari riset itu, tak hanya novel yang bisa ditulis, tapi juga sebuah buku lain yakni ’Sejarah Prasasti Bukit Siguntang dan Badai Politik di Kemaharajan Melayu 1160-194’,’’ jelasnya.(fiz)

Laporan KUNNI MASROHANTI, Pekanaru kunnimasrohanti@riaupos.co.id


++ Lainnya »

++ Indeks »