Bisnis  RDK Gandeng Saudagar Melayu Budaya  Junaidi Syam Seniman/ Budayawan Pilihan Sagang Jurnalistik  Dua Tokoh Pers Raih Anugerah, Ramon Moderator Nasional Sahabat  Puisi dari Komunitas Penyair Asean - Korea Aktifitas  Gubernur Kembali Cari Klub di Liga 2 Profil  Sebesar Apa Naga dalam Diri Kita

Rida mungkin telah ditakdirkan menjadi Raja Media di Sumatera Bagian Utara. Sukses dengan bisnis media, Rida seperti menggelinding ke dunia bisnis .Meski begitu sibuk degan berbagai kegiatan kewartawanan dan juga bisnisnya, ternyata Rida tak pernah lepas dari dunia kesusastraan dan perhatiannya terhadap pelestarian dan pengembangan budaya Melayu
 

MAKALAH

Download

Download

Home / Sastra

Tujuh Sastrawan Nusantara Bincangkan Sastra Melayu

Minggu, 18 Desember 2016 10:55 | Sastra

Puluhan sastrawan dari lima negara mengikuti Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) IX di Tanjungpinang (15-17/12/2016). Berbagai kegiatan acara ini. Seperti pembacaan puisi, ziarah puisi, sembang sastra, silaturrahmi para penyair, hingga meramaikan Anugerah Jembia Emas dan masih banyak lainnya.

Dari puluhan penyair tersebut, delapan orang di antaranya dari Tiau. merek adalah Husnu Abadi, Aris Abeba, Herman Rante, Fakhrunnas MA Jabbar, Dheni Kurnia,  Bambang Kariawan, Kunni Masrohanti, dan Jefry Al Malay. Hadir juha koreorafer Riau Iwan Irawan.  Seperti yang lainnya, mereka mengikuti berbagai kegiatan tersebut sejak awal hingga penutupan tadi malam.

Perbincangan unik tentang perkembangan sastra Melayu dari masa ke masa, menjadi pembahasan paling hangat. Peserta sembang sastra tak lagi hanya peserta PPN, tapi juga pelajar dan mahasiswa serta berbagai anggota komunitas seni dan sastra di Tanjungpinang khususnya.

'Sastra Melayu, khazanah sastra Melayu dari masa ke masa menjadi pengikat, persatuan antara kita. Begitu indahnya kesusasteraan kita, apelagi yang nak dirisaukan. Pantun adalah kekayaan serumpun yang kita punya,' ujar Saleh Rahamad, pembicara asal Malaysia.

Pantun, sastra lama yang senantiasa baru, senantiasa diucapkan dalam berbagai helat, yang begitu dekat di hati masyarakat, seolah menjadi pengikat pemersatu masyarakat serumpun. Hal ini diungkapkan oleh hampir semua narasumber itu.  Maka, sastra adalah salah satu alasan bahwa tidak ada perbedaan kesusasteraan antara Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand dan Brunei Darussalam.

Datok Rida K Liamsi, juga menyampaikan pemikiran-pemikinnya bahwa, sastra dan puisi tidak akan pernah mati. Mantra merupakan puisi besar yang menjadi pemersatu. Puisi harus menjadi bagian kehidupan, harus menjadi sejarah. Bahkan penulis puisi, penyair harus membuat sejarah baru.

'Kalau menjadi besar, harus melakukan hal-hal besar. Galilah sejarah-sejarah dan tulis dalam puisi. Buat hal baru, buat sejarah. Menjadilah bagian dari sejarah. Chairil adalah sosok pembuat sejarah yang luar biasa bagi Indonesia dengan aliran puisi baruny. Dia kekayaan Indonesia " ungkap Datok Rida. (kun)


++ Lainnya »

++ Indeks »