Bisnis  RDK Gandeng Saudagar Melayu Budaya  Wapres Jusuf Kalla Bersedia Hadir Pada Acara Perhelatan Tamadun Melayu Antar Bangsa di Lingga Jurnalistik  Dua Tokoh Pers Raih Anugerah, Ramon Moderator Nasional Sahabat  Puisi dari Komunitas Penyair Asean - Korea Aktifitas  Gubernur Kembali Cari Klub di Liga 2 Profil  Sebesar Apa Naga dalam Diri Kita

Rida mungkin telah ditakdirkan menjadi Raja Media di Sumatera Bagian Utara. Sukses dengan bisnis media, Rida seperti menggelinding ke dunia bisnis .Meski begitu sibuk degan berbagai kegiatan kewartawanan dan juga bisnisnya, ternyata Rida tak pernah lepas dari dunia kesusastraan dan perhatiannya terhadap pelestarian dan pengembangan budaya Melayu
 

MAKALAH

Download

Download

Home / Sastra

HARI PUISI 2017

Puisi sebagai Harga Mati

Senin, 09 Oktober 2017 08:04 | Sastra

""Teks Sumpah Pemuda adalah sebuah puisi. Itu sama artinya, bahwa, bangsa ini lahir dari sebuah puisi. Puisi yang melahirkan Bangsa Indonesia. Maka, sepantasnyalah puisi mendapat tempat yang semestinya di negara ini. Kalau tak ada puisi, takkan ada negeri ini.""



HAL itu dikatakan presiden penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri. Ia meyakini, menegaskan dan mengabarkan, bahwa, bangsa yang tahu diri adalah bangsa yang menghargai puisi. Teks Sumpah Pemuda, merupakan naskah berupa puisi. Keyakinan Sutardji juga diyakini penyair-penyair Indonesia. Karena itulah, penyair dengan segala daya upaya, terus berkerjakeras agar puisi diakui secara resmi oleh negara dengan adanya satu hari bernama hari puisi.

Setiap tahun, hari puisi –yang masih belum diakui itu- terus dirayakan oleh penyair di seluruh Indonesia. Tahun ini, lebih banyak yang merayakan. Di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Maraoke. Ada 82 komunitas dan satu pemerintahan yang merayakannya. Perayaan tahun ini lebih meriah dan gegap gempita dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, 38 komunitas sempat hadir dan berkumpul bersama pada puncak perayaan hari puisi yang dilaksanakan Yayasan Hari Puisi Indonesia, di Jakarta 1-4 Oktober lalu.

Dilaksanakan di waktu yang berbeda, di tempat yang berbeda, seluruh komunitas penyelenggaran perayaan hari puisi mengusung tema yang berbeda-beda pula. Sementara, puncak perayaan HPI mengusung tema Puisi Harga Mati. Tak bisa ditawar lagi. Itulah jati diri negeri ini. Karena itulah bangsa ini satu. Bersatu. Kuat dan kokoh. Itulah makna yang tersembunyi di balik teks sumpah pemuda.

‘’Sumpah pemuda adalah teks puisi, artinya, kita satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa persatuan, yaitu Bahasa Indonesia. Artinya, persatuan etnis dan keberagaman sudah selesai. Padahal, waktu teks sumpah pemuda dibacakan, itulah segala permulaan. Karena itu puisi sebagai harga mati. Kalau tidak menghargai puisi berarti khianat kepada negeri. Inilah hasil temuan presiden penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri,’’ ungkap Maman S Mahayana, Ketua Yayasan Hari Puisi Indonesia, di sela-sela puncak perayaan HPI di Jakarta.



Berbagai kegiatan mewarnai puncak perayaan HPI tahun ini. Selain parade puisi, panggung apresiasi, pameran poster pelaksanaan HPI seluruh Indonesia, sayembara buku puisi yang merupakan kegiatan tahunan dengan total hadiah Rp100 juta, juga ada penerbitan buku. Ini paling istimewa. Buku itu adalah buku data penyair Indonesia dari masa ke masa yang berjumlah 1000 penyair. Buku itu berjudul Apa dan Siapa Penyair Indonesia (ASPI). Buku ini juga diluncurkan pada malam puncak perayaan 4 Oktober bersamaan dengan pengumuman sayembara buku puisi. Buku puisi terbaik mendapat hadiah Rp50 juta dan 5 buku terbaik pilihan mendapatkan masing-masing Rp10 juta.

Pembinan Yayasan Hari Puisi Indonesia sekaligus inisiator HPI, Rida K Liamsi, mengaku senang karena jumlah peserta sayembara buku puisi tahun ini juga meningkat, yakni mencapai 261 buku dari ratusan penyair yang tersebar di seluruh Indonesia. ‘’Sayembara buku puisi, ya sebagai penyemangat, sebagai penghargaan penyair yang terus menulis puisi, penyair yang terus berkarya, hidup untuk terus berkarya. Makanya setiap tahun harus ada. Tidak boleh hilang. Bagaimana caranya mendapatkan hadiah, yayasan HPI terus berjuang agar pengahargaan ini tetap ada,’’ katanya pula.

Panitia juga mengumumkan nominasi 16 buku terbaik sebelum akhirnya menetapkan satu terbaik dan lima pilihan lainnya. 16 nominasi tersebut yakni, buku berjudul Akar Ketuban karya Umi Kulsum (Interlude, Yogyakarta, 2017), Benang Bekas Sungai karya Ramon Damora (Jembia, Kepri, 2017), Berguru kepada Rindu karya Acep Zamzam Noor (Diva Press, Yogyakarta, 2017), Buku Latihan Tidur karya Joko Pinurbo (GPU, Jakarta, 2017), Giang karya Irawan Sandya Wiraatmaja (Kosa Kata Kita, Jakarta, 2017), Hadrah Kyai karya Raedu Basha (Ganding Pustaka, Yogyakarta, 2017), Hanya Melihat Hanya Mengagumi karya Din Saja (Imaji Indonesia, Depok, 2017), Kisah Suatu Pagi karya Soni Farid Maulana (Kosa Kata Kita, Jakarta, 2017), Lelaki dan Tangkai Sapu karya Iyut Fitra (Kabarita, Padang, 2017), Magma karya Ratna Ayu Budiarti (Gambang, Yogyakarta, 2017), Mula-mula Kita Pergi Selanjutnya Tersesat karya Julaiha S (Obelia, Medan, 2016), Perjalanan 63 Cinta karya Yudhistira ANM Massardi (KPG, Jakarta, 2017), Roh Pekasih karya Dheni Kurnia (Akar, Yogyakarta, 2017), Rumbalara Perjalanan karya Bernando J Sucipto (Diva, Yogyakarta, 2017), Sanghyang Jaran karya Adri Darmadji Woko (Kosa Kata Kita, Jakarta, 2017), dan Surat Cinta dari Rindu karya Candra Malik (Noura, Yogyakarta, 2017)



Dari 16 buku ini, panitia kemudian memnetapkan lima buku pilihan, yakni buku berjudul Berguru kepada Rindu karya Acep Zamzam Noor (Diva Press, Yogyakarta, 2017), Hanya Melihat Hanya Mengagumi karya Din Saja (Imaji Indonesia, Depok, 2017), Surat Cinta dari Rindu karya Candra Malik (Noura, Yogyakarta, 2017), Hadrah Kyai karya Raedu Basha (Ganding Pustaka, Yogyakarta, 2017) dan Akar Ketuban karya Umi Kulsum (Interlude, Yogyakarta, 2017). Sedangkan buku puisi terbaik diberikan Yayasan HPI kepada  buku berjudul Giang karya Irawan Sandya Wiraatmaja (Kosa Kata Kita, Jakarta, 2017).

Yayasan HPI juga memberi penilaian kepada poster terbaik. Lalu komunitas sebagai pelaksananya diberi penghargaan berupa piagam dan buku. Sepuluh komunitas dari 82 komunitas tersebut, yakni,  Komunitas Sastra dan Seni Sarunai (Bukittinggi), Komunitas Rumah Dunia (Banten), SSBS Sumba (NTT), Pesantren Rahmatul Asri (Sulawesi Selatan), Komunitas Seni Rumah Sunting Pekanbaru (Riau), Forum Sastra Bogor (Bogor), Macandahan (Kutai Kartanegara), Komunitas HPI (Kalbar), Sobat Literasi Jalanan (Palembang), dan Sanggar Sastrowidjojo, Bojonegoro (Jatim).

‘’Penghargaan berupa piagam yang kami berikan kepada komunitas-komunitas ini tidak sebanding dengan kerja keras mereka, dengan upaya mereka membumikan puisi dan merayakan hari puisi di daerah masing-masing. Entah bagaimana caranya, entah darimana dananya, itulah perjuangan mereka. Memang semua sedang berjuang untuk melahirkan hari puisi ini,’’ ungkap ketua panitia pelaksana yang juga sekretaris Yayasan Hari Puisi, Asrizal Nur.

Puncak perayaan HPI dilaksanakan di dua tempat; di halaman parkir Taman Ismail Marzuki (TIM) dan di dalam gedung  Graha Bakti. Sejak kegiatan dimulai, seluruh panitia, pengurus yayasan HPI dan inisiator Rida K Liamsi, sudah hadir di sana. Bersama penyair dari seluruh Indonesia, mereka menyaksikan bagaimana puisi terus dibaca, dinyanyikan dan dimusikalisasikan selama dua malam bertutur-turut hingga tengah malam.

Parade puisi oleh pejabat, donatur dan penyair ternama sendiri dilaksanakan di dalam gedung pada malam ketiga. Sedangkan pada malam puncak atau malam keempat, juga ada pembacaan puisi selain pengumuman pemenang sayembara dan peluncuran buku. Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM, beberapa menteri dan beberapa duta besar Negara-negara lain di Indonesia, juga turut membacakan puisi.Pemutaran video ucapan pelaksanaan hari puisi dari berbagai komunitas juga dilaksanakan pada malam puncak tersebut.

Dirjen Kebudyaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid yang seharusnya menyampaikan pidato kebudayaan malam itu, hanya memberikan sambutan singkat. Salah satu hal yang langsung ditangkapnya adalah, mencetak buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia. Ia juga sangat mengapresiasi perayaan HPI yang sudah dilaksanakan pada tahun ke lima. Artinya, ia juga langsung menangkap keluh kesah yang disampaikan panitia soal sulitnya melaksanakan sebuah kegiatan tanpa dukungan dana, apalagi donatur yang terlibat belum mampu menutupi semua biaya yang diperlukan.

‘’Kami sangat mengapresiasi segala upaya yang telah dilakukan Yayasan Hari Puisi Indonesia dalam merayakan dan mewujudkan hari puisi ini,’’ ungkap Hilmar Farid.

Para penyair yang kumpul bersama komunitasnya, menggelar diskusi bersama tentang bagaimana dan hendak dibawa kemana hari puisi ke depannya. Mayoritas mereka mengaku akan lebih bersemangat merayakan hari puisi ke depan. Sebagian yang lain pula, berharap agar puncak perayaan hari puisi oleh Yayasan Hari Puisi tidak hanya dilakukan di Jakarta saja, tapi juga merambah ke daerah-daerah. Semua usulan tersebut menjadi masukan bagi panitia dan Yayasan Hari Puisi, meski ada juga yang lebih memilih agar puncak perayaan hari puisi tetap dilaksanakan di Jakarta sampai hari puisi diakui oleh negara dan didukung seluruh pemerintahan di daerah masing-masing.

Banyak penyair Riau yang juga turut hadir dalam puncak perayaan hari puisi tersebut. Mereka antara lain, A Aris Abeba, Kazzaini Ks, Dheni Kurnia, Taufik Ikram Jamil, Armawi KH, Tien Marni dan Kunni Masrohanti bersama anggota Komunitas Seni Rumah Sunting (KSRS). Bersama penyair yang lain, mereka juga turut membacakan puisi-puisi pada Panggung Apresiasi.

Dheni Kurnia, merupakan salah satu penyair Riau yang turut menyertakan buku puisinya pada sayembara buku puisi. Dan, buku puisi yang berjudul Roh Pekaseh karyanya tersebut masuk dalam nominasi 16 buku terbaik. Selain penyair dari berbagai daerah di Indonesia, puncak perayaan HPI tahun ini juga dihadiri penyair dari Vietnam, Malaysia dan Singapura.(fiz)


++ Lainnya »

++ Indeks »