Bisnis  RDK Gandeng Saudagar Melayu Budaya  Wapres Jusuf Kalla Bersedia Hadir Pada Acara Perhelatan Tamadun Melayu Antar Bangsa di Lingga Jurnalistik  Dua Tokoh Pers Raih Anugerah, Ramon Moderator Nasional Sahabat  Puisi dari Komunitas Penyair Asean - Korea Aktifitas  Gubernur Kembali Cari Klub di Liga 2 Profil  Sebesar Apa Naga dalam Diri Kita

Rida mungkin telah ditakdirkan menjadi Raja Media di Sumatera Bagian Utara. Sukses dengan bisnis media, Rida seperti menggelinding ke dunia bisnis .Meski begitu sibuk degan berbagai kegiatan kewartawanan dan juga bisnisnya, ternyata Rida tak pernah lepas dari dunia kesusastraan dan perhatiannya terhadap pelestarian dan pengembangan budaya Melayu
 

MAKALAH

Download

Download

Home / Sastra

Pendar Gebyar Puncak Perayaan Hari Puisi Indonesia 2017

Menggema ke Langit, Mengakar ke Bumi

Senin, 09 Oktober 2017 12:07 | Sastra

JAKARTA – Jika berpuasa dirayakan sukacita dengan Idul Fitri, maka berpuisi dirayakan gegap-gempita dengan Hari Puisi. Sudah dilaksanakan kali kelima dan semakin menggema.

Empat hari rasanya tidak pernah cukup. Sepanjang 1-4 Oktober kemarin, digelar puncak perayaan Hari Puisi Indonesia di area Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Sekali lagi, 96 jam adalah masa yang boleh dikata terlalu singkat untuk sebuah kegembiraan bagi para penyair se-Indonesia. Mengutip kata Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri, “Penyair bekerja setiap hari, menderita setiap hari. Maka bolehlah ada satu hari, hari ini saja, mereka berbahagia.

”Empat hari itu memang hanya rasa bahagia yang menguar-uar dan berpendar-pendar di sana. Apalagi kalau bukan tersebab berkumpulnya ratusan penyair se-Indonesia dalam suatu tempat yang seketika menjelma episentrum kata-kata. Dari siang ke malam, puisi demi puisi dibacakan.

Sebagian berdeklamasi. Tak sedikit yang bermusikalisasi. ”Sampai jam setengah dua pagi,” kenang Dheni Kurnia, penyair asal Pekanbaru yang hadir di sana.

Oleh panitia penyelenggara, dua hari awal memang dijadikan sebagai masa-masa bergembira dengan membacakan puisi. Ada sebuah panggung di pelataran TIM yang dibangun dan didedikasikan khusus untuk penyair se-Indonesia yang pada bulan-bulan sebelumnya telah pula menginisiasi perayaan Hari Puisi di masing-masing tempat tinggalnya.

Tahun ini, Hari Puisi memang semakin menjadi di Tanah Air. Jika pada tahun sebelumnya, hanya ada perayaan di 10 daerah, pada tahun ini titik perayaan Hari Puisi mencapai 80 daerah.

Tersebar dari Nangroe Aceh Darussalam sampai Papua. Kesadaran itu tergugah lantaran memang Indonesia ’berutang’ pada puisi. Bahkan, sampai dikatakan jikalau tanpa puisi, tidak pernah ada bangsa ini. Ketua Umum Yayasan Hari Puisi, Maman S Mahayana menukas, jika NKRI itu harga mati, maka puisi itu adalah sebagai harga hidup.

”Seperti yang disampaikan Sutardji Calzoum Bachri, Sumpah Pemuda itu juga sebuah puisi yang kelak membentuk gagasan tentang bangsa ini,” ujar Maman.

Melalui perayaan Hari Puisi di sana-sini, puisi menggema ke langit, mengakar ke bumi. Terobosan-terobosan kreatif digulirkan pada penyelenggaraan setiap tahun.

Pada 2016 lalu, perayaan Hari Puisi Indonesia jadi patut dikenang lantaran menerbitkan Matahari Cinta Samudera Kata, sebuah kitab antologi puisi paling tebal yang pernah terbit di dunia dengan 2.016 halaman.

Sedangkan tahun ini, kreativitas itu menolak berhenti. Penaja acara dari Yayasan Hari Puisi kini menerbitkan Apa dan Siapa Penyair Indonesia, sebuah buku yang tidak kalah tebal.

Berisikan lebih dari seribu biogra: penyair Indonesia yang membentang dari era Pujangga Baru sampai penyair muda generasi baru. ”Juga tentu tetap mempertahankan Sayembara Buku Puisi sebagai ikondari acara ini,” kata Ketua Panitia Pelaksana, Asrizal Nur.

Juga dari Perayaan Hari Puisi Indonesia setiap tahun, terlihat upaya nyata mengikis kungkungan eklusivitas puisi dari sekadar tangan-tangan penyair ke seluruh elemen masyarakat, tanpa peduli jenis profesi atau usia.

Itu terejawantahkan pada perayaan tahun lalu melalui kehadiran Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. Pada saat itu, kendati bukan lulusan ilmu sastra atau orang-orang yang secara serius menekuni sastra, JK berbicara penuh niscaya bahwa bangsa ini berutang banyak kepada para penyair.
Yang, kata dia, telah memberikan inspirasi tak tepermanai. ”Terima kasih kepada para penyair. Terima kasih telah menginspirasi kami. Saya percaya puisi adalah penghalus jiwa. Bangsa yang memiliki kehalusan jiwa dapat membentuk spirit yang kuat. Itulah makna dalam perayaan Hari Puisi ini,” ujar JK.

Sedangkan pada tahun ini, setelah heboh dan bersukacita dengan pembacaan puisi dari para penyair se-Indonesia dari siang ke malam sepanjang 1- 2 Oktober, malam ketiga diramaikan dengan kehadiran sejumlah tokoh, pejabat, pengusaha, dan tentu saja penyair dalam panggung parade puisi yang berpindah ke dalam arena Graha Bakti Budaya.

Selain ada Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon yang membacakan puisi tentang Rohingya, yang juga ikut turun membacakan puisi adalah Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita, Menteri Ketenagakerjaan RI Hanif Dhakiri, dan kali kedua bagi Menteri Agama RI Lukman Hakim Syaifuddin.

Fadli Zon dan ketiga menteri ini tampil maksimal di hadapan ratusan penyair se-Indonesia yang memenuhi kursi-kursi Graha Bakti Budaya. Ketika pelantang sudah sehadapan, suara mereka menggelegar seolah enggan kalah jago ketimbang ratusan penyair yang menyaksikannya.

”Cara Pak Hanif membaca puisi luar biasa. Dari gayanya terlihat ia bukan seorang yang asing terhadap puisi,” kata Ramon Damora, penyair asal Batam, mengomentari penampilan Hanif Dhakiri.

Lalu yang turut melengkapi penampilan pejabat elit itu ada Duta Besar RI untuk Azerbaijan Husnan Bey Fananie, Duta Besar Libya untuk Indonesia Sadegh MO. Bensadegh, Atase Kebudayaan Brazil di Indonesia HugoLorenzetti Neto, hingga Gubernur Kepri Nurdin Basirun, Wali Kota Depok Idris Abdul Somad dan Puteri Indonesia 2011 Anisa Putri Ayudya.

Hari Puisi Indonesia memberikan kesan tersendiri bagi Bensadegh yang tertangkap dari sepotong puisi yang dibacakannya, ‘Sebagai hari kebahagiaan yang kelak akan dirayakan seluruh generasi’.

Berbicara puisi untuk generasi muda bangsa, ada baiknya menyimak sepotong perkara yang disampaikan Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI, Hilmar Farid. Bahwasanya kesusastraan, termasuk puisi di dalamnya, adalah elemen penting dalam proses pendidikan karakter yang sedang digesa di Indonesia.

Karena itu pula, Hilmar mengajak seluruh penyair se-Indonesia agar lebih semarak masuk ke sekolah-sekolah, mendekatkan puisi kepada pelajar se-Tanah Air. Dalam tahun-tahun ke depan, kata Hilmar, program ini akan menjadi program wajib Kemendikbud RI yang akan disebar di seluruh wilayah di Indonesia.

”Dan untuk menyukseskan program itu, kami butuh bantuan teman-teman penyair,” ujarnya. Menyimak perayaan yang sudah kali kelima dan selalu membetot perhatian orang se-Indonesia, memang sudah selayaknya pemerintahpusat mulai ambil bagian paling besar dalam perayaan ’Lebaran’ bagi para penyair ini.

Yakni dengan mulai berani merancang penetapan Hari Puisi yang dirayakan bersempena tanggal lahir penyair Chairil Anwar pada 26 Juli setiap tahunnya sebagai Hari Puisi Nasional.

Senyampang cita-cita Rida K Liamsi, salah seorang inisiator, yang ingin menempatkan sebuah hari yang jadi tanda ingatan, yang jadi hari raya bagi seluruh penyair di Indonesia. Sekaligus keinginan bersama untuk memberi rasa hormat pada para penyair dan karya-karyanya.

”Artinya, Hari Puisi ini haruslah dilihat sebagai visi masa depan kepenyairan Indonesia,” tegas Rida.

Satu Buku Puisi Kepri Jadi Finalis adalah Ramon Damora, penyair cum Pemred Harian Tanjungpinang Pos, satu-satunya penyair Kepri yang berhasil mencatatkan namanya dalam daftar 16 penulis buku puisi terbaik dari 260 peserta pada Sayembara Buku Puisi Hari Puisi Indonesia 2017.

Melalui buku puisi Benang Bekas Sungai yang diterbitkan Yayasan Jembia Emas, Ramon membuktikan puisi anakwatan Melayu punya martabat sederajat dengan puisi-puisi penyair jempolan Indonesia.

”Sebuah tantangan kreatif sebenarnya sangat terbuka buat teman-teman penyair di Kepri,” kata Ramon. Walau belum masuk lima besar dan dinobatkan sebagai buku terbaik, yang diperbuat Ramon dengan Benang Bekas Sungai-nya menjadi jejakteroka bagi penyair muda di Bumi Segantang Lada.

Bahwasanya puisi hari ini, kata Ramon, tidak lagi mengutamakan nama besar penyairnya, melainkan kualitas serta kedalamannya sebagai juru bicara utama sebuah karya. (tih)


++ Lainnya »

++ Indeks »