Bisnis  RDK Gandeng Saudagar Melayu Budaya  Junaidi Syam Seniman/ Budayawan Pilihan Sagang Jurnalistik  Dua Tokoh Pers Raih Anugerah, Ramon Moderator Nasional Sahabat  Puisi dari Komunitas Penyair Asean - Korea Aktifitas  Gubernur Kembali Cari Klub di Liga 2 Profil  Sebesar Apa Naga dalam Diri Kita

Rida mungkin telah ditakdirkan menjadi Raja Media di Sumatera Bagian Utara. Sukses dengan bisnis media, Rida seperti menggelinding ke dunia bisnis .Meski begitu sibuk degan berbagai kegiatan kewartawanan dan juga bisnisnya, ternyata Rida tak pernah lepas dari dunia kesusastraan dan perhatiannya terhadap pelestarian dan pengembangan budaya Melayu
 

MAKALAH

Download

Download

Home / Puisi

Granada dan Hari Hari Setelahnya

Puisi Rida K Liamsi

1//

Abu Abdillah menangis di puncak Bukit
Memandang Granada tenggelam dalam duka
Air matanya menganak sungai
Jauh menyusup ke celah celah ngarai
Membayangkan Ferdinand dan Isabella
Bergandeng tangan memasuki Alhambara Menghapus semua jejak Islam di sana
Dia tak berdaya


: Wahai Tarik bin Ziyad, maafkan aku Panglima.
Aku bodoh dan lemah 
Tak berdaya mempertahankan   Granada
Negeri yang kau rebut dengan darah dan airmata .
Aku lupa saat kau bakar semua bahtera
Saat kau dan prajuritmu  menghunus pedang
Bertempik : Tak ada jalan pulang
Aku pun tak berdaya saat menyerahkan kunci gerbang kota
Aku kalah dan terusir seperti sampah dihantui rasa bersalah



Abu Abdillah menangis di puncak bukit
Bukit tangisan Arab terakhir di Granada
Ibunya meraung  penuh luka
: Menangislah kau  Bani Amar seperti perempuan 
Tak berdaya menpertahankan negeri
Sebagaimana pekerjaan para lelaki
Lihatlah sungai yang mengalir sansai
Air mata  kekalahan para penguasa
Yang dibutakan nafsu dan keserakahan . Kekuasaan yang melupakan sejarah .
Sejarah Tarik  Bin Ziyad , Panglima perkasa
Penakluk Andalusia , jantung Eropa



Abu Abdillah memandang puncak Alhambra
Dalam pelarian kembali ke Afrika
Membayangkan  murka sejarah dari sisa
bahtera perang  yang jadi karang
:  Kalian  jadi bangsa yang kalah karena serakah dan melupakan sejarah. Bangkitlah  !



2//


Granada tenggelam dalam kisah Abu Abdillah
Tapi  Islam tak berhenti membuat sejarah
Angin  Laut Tengah seperti pisau mendesau di sauk dan ciau. Membuat bani Othmani memendam risau
Di puncak haluan Al Fatih mengangkat teropong
Mengusung  resa menyeberang  Iberia
: Pasang meriam ,  lunasi hutang
Elang elang  terbang dan mengirim kabar
Constantinopel  resah , tenggelam dalam gemetar
Harum bau setanggi dan raung suara dayung
Laksana zikir yang membelah jazirah
Dan Byzantium pun menyerah


3 //

Eropa kembali membuka peta
Menyusur jejak rempah rempah
Mencari helah menghapus luka
Menyimpan dendam , mengatur siasah
Setelah Columbus, setelah Marcopolo,
Setelah perang salib yang penuh darah
: Itu Melaka jantung negeri  Moor. Rebutlah !
Rebut selat , rebut semenanjung, dan genggam Asia
Meriam berdentum dan Melakapun   menyerah
Seperti Abu Abdillah , Mahmud pun melupakan sejarah
Sejarah  Parameswara   pendiri Melaka
Sejarah Mansyursyah penakluk tahta dengan cinta
Sejarah Hang Tuah yang membangun Melayu dengan marwah


4 //


Inikah Padah ?

5 //

Di sebuah bilik di ujung hari
Seorang penyair menyimpan puisinya dalam memori
:  Yang melupakan sejarah akan kalah



2/1/2018

— catatan setelah menonton video hari-hari terakhir Andalusia di Eropa


++ Lainnya »

++ Indeks »