Bisnis  RDK Gandeng Saudagar Melayu Budaya  Junaidi Syam Seniman/ Budayawan Pilihan Sagang Jurnalistik  Nilai Seorang Wartawan Adalah Tulisan Sahabat  Puisi dari Komunitas Penyair Asean - Korea Aktifitas  Mempelajari Masa Lalu Untuk Masa Depan yang Lebih Baik Profil  Sebesar Apa Naga dalam Diri Kita

Rida mungkin telah ditakdirkan menjadi Raja Media di Sumatera Bagian Utara. Sukses dengan bisnis media, Rida seperti menggelinding ke dunia bisnis .Meski begitu sibuk degan berbagai kegiatan kewartawanan dan juga bisnisnya, ternyata Rida tak pernah lepas dari dunia kesusastraan dan perhatiannya terhadap pelestarian dan pengembangan budaya Melayu
 

MAKALAH

Download

Download

Download

Home / Sastra

Oleh: Abdul Malik

Pembuktian Seorang Tun Irang

Minggu, 21 Juli 2019 13:47 | Sastra



"HAI, Raja Bugis! Jikalau sungguh Tuan hamba berani, tutuplah aib beta anak-beranak, adik-beradik! Maka, apabila tertutup aib beta semua, maka relalah beta menjadi hamba Raja Bugis. Jika hendak disuruh jadi penanak nasi raja sekalipun relalah beta,” (Liamsi 2019, iii) dikutip dari Tuhfat al-Nafis (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.),1982).

Kalimat-kalimat menggelegar itu mengalir lancar dan mantap dari ucapan Tun Irang. Ucapan sarat makna itu ditujukannya kepada putra-putra Raja Bugis (Upu-Upu Lima Bersaudara: Daeng Parani, Daeng Manambun, Daeng Marewa, Daeng Celak, dan Daeng Kumasi). Karena situasinya memang luar biasa, Tun Irang, putri tertua Allahyar-ham Tun Abdul Jalil itu, menyampaikan permintaan sekaligus cabaran (tantan-gan)-nya kepada Daeng Parani adik-beradik, yang sedang duduk di selasar (serambi) seraya putri itu melakukan atraksi menyelak bidai (tirai dari bambu) dan melepak subang di telinganya dari rumah ibu (ruang tengah). Peristiwa itu terjadi di Istana Sayap Kesultanan Riau-Johor, Ulu Riau, Pulau Bintan, tempat Tun Irang adik-beradik ditawan pada tengah malam awal 1721.

Novel Selak Bidai Lepak Subang Tun Irang merupakan karya terbaru (2019, terbitan Tare Books, Jakarta) karya Datuk Seri H. Rida K Liamsi, M.B.A. Selain sebagai wartawan senior dan budayawan terkemuka Melayu, beliau secara nasional juga dikenal sebagai penyair dan novelis yang handal. Rida-lah yang menjadi penggagas diperingatinya Hari Puisi Indonesia. Umumnya novel-novel Rida K Liamsi memang berlatar sejarah. Demikian juga novel terbarunya ini, diangkat dari kisah nyata dalam perjalanan Kesultanan Johor-Riau-Pahang-Terengganu, yang di dalamnya termasuk Singapura atau Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang setelah Terengganu mendirikan kerajaan sendiri.

Novel itu diluncurkan pada Rabu, 17 Juli 2019, di Ruang Studio  Perpustakaan Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi, Provinsi Kepulauan Riau, Jalan Basuki Rahmat 1, Tanjungpinang. Sempena peluncurannya, novel itu juga dibahas oleh Abdul Malik, Siti Rohana (antropolog), dan Aswandi Syahri (sejarawan), yang dipandu oleh sastrawan muda Fatih Muftih dan dihadiri para tokoh masyarakat, pejabat, guru, mahasiswa, dan pelajar Kota Tanjungpinang.

Novel yang mengangkat ketokohan Tun Irang (Tengku Tengah) ibni Sultan Abdul Jalil Riayat Syah ini terdiri atas prolog, tujuh bab, dan epilog. Karya ini dikemas dalam bentuk surat-surat dari tokoh aku yang ditujukan kepada perempuan yang disapanya Mur.

Prolog memperkenalkan tokoh-tokoh perempuan yang pernah mewarnai Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang: Tun Irang (Tengku Tengah), Engku Puteri Raja Hamidah, dan Tengku Embung Fatimah. Tun Irang dengan selak bidai dan lepak subang di telinganya berhasil menaklukkan hati Upu-Upu Bugis Luwuk. Kemudian, bersama abangnya, Tengku Sulaiman dan Tun Abbas, mereka berjaya mengambil kembali tahta dari Raja Kecik, orang yang merebut kerajaan itu dari Sultan Abdul Jalil Riayat Syah melalui kudeta berdarah. Mereka memindahkan pusat pemerintahan dari Johor Lama di Semenanjung Melaka ke Ulu Riau di Pulau Bintan. Kesultanan Riau-Johor merupakan penerus Kerajaan Johor, penerus Melaka, penerus imperium Melayu Besar yang sudah berdiri sejak 1160 di Pulau Bintan (Liamsi 2019, 3-4).

Bab 1 berkisah tentang peristiwa ini. Pada 1718 Sultan Abdul Jalil Riayat Syah digulingkan oleh Raja Kecik yang mengaku sebagai putra Sultan Mahmud Syah II (Marhum Mangkat Dijulang). Sultan Mahmud Syah II adalah Sultan Johor-Riau-Pahang-Terengganu yang mangkat dibunuh oleh Megat Seri Rama karena Baginda menghukum istri Laksemana Johor itu dengan membelah perut Dang Anum yang makan seulas nangka milik sultan. Ketika itu Dang Anum sedang hamil sulung. Sultan Mahmud tak memiliki keturunan sehingga Tun Abdul Jalil yang ketika itu menjadi Bendahara ditabalkan menjadi Sultan. Setelah 20 tahun Sultan Abdul Jalil berkuasa, Raja Kecik menyerang Johor dengan bantuan Orang-Orang Selat dari Singapura.

Karena kalah perang dan sebagai hasil rekonsiliasi, Tun Abdul Jalil diturunkan kembali ke jabatan awalnya sebagai Bendahara dan Raja Kecik dilantik menjadi Sultan. Selain itu, Raja Kecik meminta Tun Irang, putri tertua Tun Abdul Jalil, menjadi istrinya. Pertunangan itu, kemudian, dibatalkan secara sepihak oleh Raja Kecik karena dia melihat dan jatuh hati pula kepada Tengku Kamariah, adik kandung Tun Irang. Raja Kecik akhirnya menikah dengan Tengku Kamariah. Sebelum itu, dia telah menak-lukkan Adipati Mata Kucing, penguasa Palembang, dan menikahi putrinya. Tun Irang berasa marwahnya sebagai perempuan telah diinjak-injak oleh orang yang mengaku putra Sultan Mahmud Syah II, yang padahal mangkat tak meninggalkan keturunan.


Tun Abdul Jalil sekeluarga tak rela bertuankan Raja Kecik. Mereka melarikan diri ke Pahang, termasuk membawa Tengku Kamariah. Malangnya, dalam perjalanan mereka dihadang oleh pasukan Raja Kecik yang dipimpin oleh Nakhoda Sekam. Setelah selesai shalat subuh, Tun Abdul Jalil dan anaknya Tun Nara Wangsa dibunuh oleh Nakhoda Sekam atas perintah Raja Kecik di Kuala Pahang (Malaysia, sekarang). Tun Irang yang terbangun tak lama setelah peristiwa naas itu mengamuk dan menebas sesiapa pun yang berada di sekitar jenazah ayahnya dengan menggunakan sundang (pedang panjang) ayahnya. Kapal yang membawa keluarga Tun Abdul Jalil mandi darah pada subuh yang pilu itu.

Sekian lama mengamuk, putri yang mahir bersilat itu pun pingsan karena didera oleh kesedihan dan dendam yang membara. Dengan tangan terikat, Tun Irang bersaudara yang masih hidup dibawa ke Ulu Riau di Pulau Bintan (kawasan Kota Tanjungpinang, sekarang) yang menjadi pusat Kesultanan Riau-Johor-Pahang-Terengganu kala itu. Mereka ditawan di Istana Sayap dengan penjagaan yang superketat. Perlakuan yang mereka terima itulah yang memicu dendam Tun Irang terhadap Raja Kecik. Disaksikan subuh pilu Kuala Pahang yang berdarah, di hadapan jenazah ayahanda dan saudara kandungnya Tun Nara Wangsa yang sangat dicin-tainya, Tun Irang bersumpah, Raja Kecik akan menerima padah (akibat buruk) karena perbuatannya itu!

Pada bab 2 dikisahkan beberapa bulan setelah pembunuhan itu, sekitar awal 1721, berlangsung pertemuan rahasia antara putra-putri Marhum Kuala Pahang dan Upu-Upu Bugis Lima Bersaudara di selasar Istana Sayap milik Raja Kecik di Ulu Riau. Di tempat itulah Tun Irang menantang Daeng Parani adik-beradik dengan ucapannya yang menggetarkan sukma sesiapa pun lelaki sejati yang mendengarnya. Semangat para putra bangsawan Bugis itu pun bergelora dibuatnya sehingga tak kuasa mereka menolak daya magis ucapan Tun Irang, yang bahkan memang jelita pula.

Pengembaraan para bangsawan Bugis Luwuk keturunan La Madussalat terjadi setelah berakhirnya Perang Makassar 1669. Kedatangan Daeng Rilaka dan anak-anaknya yang lima orang itu serta para pengikutnya dari Luwuk melalui Laut Natuna sehingga mereka sampai ke Semenanjung Melayu, negeri harapan yang memang menjadi tujuan perantauan mereka. Sebetulnya, untuk menyerang Johor, Raja Kecik terlebih dahulu minta bantuan Upu-Upu Bugis Lima Bersau-dara. Putra-putra Raja Bugis itu bersetuju. Alih-alih, Raja Kecik mengingkari perjanjiannya karena dia telah mendapat-kan bantuan Orang-Orang Selat di Singapura. Upu-Upu Bugis Lima Bersau-dara marah karena mereka dikhianati oleh Raja Kecik. Buku bertemu ruas, Tun Irang adik-beradik dan putra-putra Raja Bugis Luwuk memiliki dendam yang sama, sama-sama berasa dikhianati oleh Raja Kecik, sehingga mereka berkoalisi.

Bab 3 berkisah tentang peperangan antara pasukan keturunan Sultan Abdul Jalil Riayat Syah yang dibantu oleh pasukan Upu-Upu Lima Bersaudara melawan pasukan Raja Kecik. Setelah melalui peperangan yang agak lama, pasukan koalisi Melayu-Bugis itu berhasil mengalahkan pasukan Raja Kecik. Sesuai dengan kesepakatan politik dalam pertemuan rahasia di Istana Sayap, Tengku Sulaiman (kakanda Tun Irang) dipilih menjadi Sultan Riau-Johor-Pahang, Tun Abbas (kakanda Tun Irang juga) menjadi Bendahara. Daeng Marewa (putra ketiga Raja Bugis) terpilih sebagai Yang Dipertuan Muda, jabatan satu tingkat di bawah Sultan.

Bersamaan dengan itu, dimulailah persemendaan Melayu-Bugis di Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang dengan pernikahan di antara putra-putri bangsawan itu. Tun Irang menikah dengan Daeng Parani, Tun Cik Ayu dengan Daeng Marewa, Tengku Mandak dengan Daeng Celak, dan lain-lain. Setelah para pembesar itu ditabal-kan, diikrarkanlah Sumpah Setia Bugis-Melayu, yang diucapkan oleh Yang Dipertuan Muda I Riau-Johor Daeng Marewa di hadapan Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I. Isi sumpah setia itu mereka akan senantiasa bersama dalam suka dan duka, saling menolong, dan tak dapat lagi dipisahkan sejak hari itu. Mereka dan keturunan merekalah yang akan menjaga marwah Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang, tak satu pihak pun boleh berkhianat.

Pada bab 4 dikisahkan sekitar 1723 Daeng Parani bersama istrinya Tun Irang beserta Daeng Manambun dan Daeng Kumasi pergi ke Selangor. Daeng Parani, yang paling berhak atas jabatan Yang Dipertuan Muda I Riau-Johor karena beliau putra tertua, justeru menolak jabatan itu, yang diserahkannya kepada adiknya Daeng Marewa. Beliau lebih memilih menjadi pemimpin perang membantu putra tua Sultan Kedah, Muhammad Jiwa, yang berperang melawan adiknya sendiri, Raja Nambang. Dalam perang itu, tahap pertama dimenan-gi oleh Daeng Parani dan Muhammad Jiwa. Akan tetapi, Raja Nambang yang kalah, kemudian minta bantuan kepada Raja Kecik. Daeng Parani gugur dalam pertempuran kedua terkena tembakan Raja Kecik dan pasukannya.


Kepedihan semakin dirasakan oleh Tun Irang karena kali ini beliau kehilangan suami, apatah lagi ketika itu beliau sedang mengandung anak pertama hasil pernika-han dengan Daeng Parani. Tun Irang kembali didera oleh luka sejarah karena perbuatan orang yang sama, Raja Kecik. Tun Irang melahirkan putrinya yang diberi nama Raja Maimunah, yang diperkirakan lahir pada 1723, di tengah berkecamuknya Perang Kedah. Putri Daeng Parani dan Tun Irang itu merupa-kan keturunan Bugis-Melayu pertama menggunakan gelar bangsawan Raja. Sesuai dengan perjanjian mereka, anak-cucu bangsawan persemendaan Melayu-Bugis itu tak lagi menggunakan gelar bangsawan Tengku (Melayu) atau Daeng (Bugis), tetapi Raja (Melayu-Bugis).

Bab 5, 6, dan 7 menceritakan perjalan-an sejarah yang dijalani oleh anak-cucu Tun Irang. Pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang mengalami pasang-surut di tangan generasi penerus itu sampailah kedatangan penjajah Belanda.

Epilog novel ini ditutup dengan akhir bahagia. "Anak-cucu Tun Irang-tentu bersama Daeng Parani-dan Tun Abbas (kakanda Tun Irang) berhasil mengubah wilayah ini menjadi beberapa kerajaan baru: Kerajaan Johor, Kerajaan Pahang, dan lebih dulu Kerajaan Terengganu yang selalu menjadi benteng Melayu.

Jika tak membaca buku ini, tak sesiapa pun akan memperhitungkan bahwa Tun Irang (Tengku Tengah) itulah sebenarnya tokoh utama pembuat sejarah di Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang, juga Terengganu, bahkan Selangor. Pasalnya, beliau hanyalah putri tertua Bendahara Johor, Tun Abdul Jalil, yang kemudian ayahandanya itu menjadi Sultan Johor-Riau (1699—1718). Beliau bukanlah permaisuri Sultan atau istri Raja Muda, yang membuat keputusan politik. Beliau hanyalah istri Daeng Parani, saudara tertua dari Upu-Upu Lima Bersaudara, yang lebih memilih menjadi panglima perang daripada menjadi pejabat teras kerajaan.

Novel ini menunjukkan kejelian dan ketelitian yang luar biasa seorang Rida K Liamsi dalam membaca peristiwa sejarah. Alhasil, setelah membaca novel sejarah ini, tak terbantahkan bahwa Tun Irang-lah yang menjadi penentu hitam-putihnya Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang selama tak kurang dari 190 tahun (1722—1912).

Bahkan sebetulnya, novel ini juga secara sorot balik merujuk kepada kerajaan-kerajaan sebelumnya, terutama Kerajaan Melaka, tetapi juga Kerajaan Bintan yang berdiri pertama di Pulau Bintan. Alhasil, karya ini menyajikan peristiwa-peristiwa bersejarah sejak Kerajaan Bintan, Kerajaan Melaka, Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang dan daerah takluknya, Kerajaan Siak Sri Inderapura, Kesultanan Riau-Lingga, bahkan sampai ke Kesultanan Johor, Kesultanan Pahang, dan Kesultanan Terengganu dan Selangor yang baru di Semenanjung Malaysia sekarang. Dengan masa awalnya sejak Kerajaan Bintan (1160), rentang waktu yang diliputi oleh novel ini tak kurang dari 750 tahun.


Tokohnya pula, dengan hanya memilah tokoh-tokoh penting saja pada setiap periode kerajaan-kerajaan itu, sangat banyak. Bersama peristiwa yang beraneka ragam yang dialami para tokohnya yang banyak itu, penceritaan memang harus dilakukan dengan menggunakan alur maju-mundur (alur campuran). Apatah lagi, ketika novel ini memang hendak “membuktikan” bahwa Tun Irang-lah Sang Pembuat Sejarah itu. Artinya, ketokohannya mesti dikaitkan dengan semua tempat
(kerajaan), semua peristiwa, dan semua waktu (sejak 1718—sekarang).

Penyerasian peristiwa, pelaku, dan waktu yang panjang itu memerlukan pengalaman, ketelitian, dan kecerdasan literasi yang luar biasa. Kemampuan dan kemahiran seperti itu memang hanya sanggup ditunjukkan oleh orang yang setiap waktu tak pernah lepas dari atau tunak dalam tradisi literasi (membaca dan menulis secara kritis dan bertimbal balik).

Novel ini berisi maklumat dan fakta sejarah Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang dan Terengganu yang paling lengkap dengan peristiwa, pelaku, dan waktunya. Untuk itu, penulisnya harus merujuk pelbagai sumber untuk menjelaskan tokoh-tokohnya: Tun Irang, Tun Abdul Jalil, Tengku Sulaiman, Raja Kecik, dan lain-lain. Kesemuanya itu bukanlah pekerjaan yang mudah, apatah lagi maklumat dan faktanya memang bercanggah. Bahkan, beberapa tokoh yang walaupun rujukannya telah diupayakan dipersilangkan sedemikian rupa dan secermat mungkin,  tetap juga masih menimbulkan pertanyaan, kalau tak mau disebut kecurigaan, terhadap asal-usul dan susur-galurnya.

Sesiapa pun yang hendak menge-tahui dan memahami sejarah panjang kerajaan dan orang Melayu di rantau ini serta persemendaannya dengan keturunan Bugis memang patut mem-baca novel sejarah ini. Ianya lebih mustahak lagi bagi orang Melayu yang menjadi pewaris dan ahli waris sah sejarah dan budaya Melayu di kawasan Kerajaan Bintan, Melaka, Riau-Lingga-Johor-Pahang, dan Riau-Lingga. Tentu, termasuk orang Melayu di Kerajaan Johor, Pahang, Terengganu, Selangor, dan Kedah (di Malaysia sekarang). Dengan begitu, generasi penerus ini lebih memahami jati diri mereka, keung-gulan dan kelemahan diri mereka.

Dengan novel ini, Rida K Liamsi telah berhasil meyakinkan pembacanya bahwa atraksi "sélak bidai lépak subang" [e dibaca seperti pada kata tengok, HAM] dan kalimat lirih lagi mencabar di hadapan Upu-Upu Lima Bersaudara itulah, yang menentukan perjalanan sejarah Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang tak kurang dari 190 tahun. Beliau telah mengotakan (melaksanakan) kata-katanya di hadapan jenazah ayahandanya di Kuala Pahang di subuh berdarah yang pilu pada 1720. Pada 1895 Temeng-gung Abu Bakar ditabalkan menjadi Sultan Johor yang baru. Baginda adalah keturunan Tun Irang melalui anaknya Raja Maimunah, melalui cucunya Tun Husin alias Daeng Ibrahim.

Kalimat "Kerajaan Riau-Johor-Pahang dimulai oleh Dinasti Tun Abdul Jalil, ditutup oleh dinasti Daeng Celak," pada akhir novel seyogianya dimaknai sebagai cabaran selanjutnya, bukan padah! Bagi saya pula, dengan eksisnya Kerajaan Johor, Pahang, Terengganu, dan Selangor yang baru, Tun Irang telah berjaya membuktikan bahwa ayahandanya, Sultan Abdul Jalil Riayat Syah, adalah sah keturunan Bukit Siguntang Mahameru.

Jati diri Baginda yang sejak 1699 diragukan oleh sebagian rakyatnya, sehingga membuat terpecah-belahnya Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang dan Terengganu, puncaknya terkorban-nya Sang Sultan pada 1720 di Kuala Pahang, ternyata salah. Bahkan, Sultan Abdul Jalil melalui anak-cucunya telah menyumbangkan tiga pahlawan nasional bagi Republik Indonesia: Sultan Mahmud Riayat Syah, Raja Haji Fisabilillah, dan Raja Ali Haji. Perjuan-gan mereka pun ada hubungannya dengan saudara-saudara mereka di Malaysia dan Singapura sekarang. Jumlah itu akan bertambah pada tahun-tahun mendatang.

Amat mustahil seseorang yang jati dirinya tak jelas boleh menghasilkan keturunan yang berprestasi luar biasa bagi bangsa dan negara. Kesemuanya itu hendaklah menjadi tauldan bagi kita yang hidup pada hari ini. Janganlah mudah dipecah-belah. Daulat Tuanku!Dan, tahniah Datuk Seri H. Rida K Liamsi.***










++ Lainnya »

++ Indeks »