Bisnis  RDK Gandeng Saudagar Melayu Budaya  Junaidi Syam Seniman/ Budayawan Pilihan Sagang Jurnalistik  Nilai Seorang Wartawan Adalah Tulisan Sahabat  Puisi dari Komunitas Penyair Asean - Korea Aktifitas  Mempelajari Masa Lalu Untuk Masa Depan yang Lebih Baik Profil  Sebesar Apa Naga dalam Diri Kita

Rida mungkin telah ditakdirkan menjadi Raja Media di Sumatera Bagian Utara. Sukses dengan bisnis media, Rida seperti menggelinding ke dunia bisnis .Meski begitu sibuk degan berbagai kegiatan kewartawanan dan juga bisnisnya, ternyata Rida tak pernah lepas dari dunia kesusastraan dan perhatiannya terhadap pelestarian dan pengembangan budaya Melayu
 

MAKALAH

Download

Download

Download

Home / Sastra

Dari Diskusi dan Bedah Buku Puisi 999

Sabtu, 10 Agustus 2019 09:47 | Sastra

Bambang Kariyawan


Menyambut HUT Riau ke-62 Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau, Ikatan Pustakawan Indonesia Riau, Rumah Sunting, dan Forum Lingkar Pena Riau menaja Diskusi Buku 999 Sehimpun Puisi Penyair Riau. Acara dilaksanakan di Ruang Bedah Buku Lantai 3 Dinas Perpustakaan dan Kearsipan pada hari Selasa, 6 Agustus 2019. Buku yang digagas oleh Datok Rida K Liamsi didiskusikan dengan Pemantiknya Fakhrunnas MA Jabbar dan Kunni Masrohanti. Acara dipandu oleh Bambang Kariyawan dan dihadiri penyair-penyair yang berkontribusi dalam buku 999 seperti Taufik Ikram Jamil, Taufik Efendi Aria, Tien Marni, DM Ningsih, Alam Terkembang, Awie Anjung, Siti Salmah dan lain-lain. Beberapa butir pemikiran dari hasil diskusi buku 999 dapat dipaparkan sebagai berikut:

Fakrunnas MA Jabbar – Ada banyak tema yang menarik untuk diangkat dan itu membuat seseorang dikenal masyarakat. Pertama tema religius, yang  secara telah kita akrabi. Kedua tema-tema tradisi yang sangat sedikit orang meliriknya. Tema-tema tradisi hari ini menjadi perhatian para penyair dan berbagai kalangan, sehingga mereka berlomba-lomba mengangkatnya menjadi karya-karya yang monumental.

Kunni Masrohanti – apa yang saya lakukan dalam melestarikan puisi tidak langsung mengajarkan kepada anak-anak menulis puisi. Tapi anak-anak diajarkan mengenali lingkungannya dan menumbuhkan rasa kepedulian yang tinggi agar tidak merusak lingkungannya. Barulah kemudian mereka diajarkan bagaimana menulis puisi. Dengan ketekunan dan keuletan kami, anak-anak di pelosok yang jauh dari perkotaan secara perlahan mereka akhirnya memiliki karya.

Para siswa di sini bukan mustahil dan bahkan harusnya lebih banyak punya karya, sebab di Pekanbaru khususnya sangat banyak sekali kegiatan literasi, juga komunitas tempat belajar, apalagi fasilitas di perkotaan lebih baik dibanding di pelosok desa. Harusnya kita lebih dahulu berkarya dibanding mereka, anak-anak di pelosok desa.

Taufik Ikram Jamil – Semangat berkarya itu harus dimulai dari kesadaran dalam rangka menjaga marwah Riau. Ini bisa menjadi salah satu motivasi para siswa dalam memulai berkarya. Riau ini sejak dulu terkenal dengan tradisi berliterasi, dan para siswa hari ini semuanya adalah ujung tombak dalam mempertahankan tradisi berliterasi. Secara kebudayaan, Melayu khususnya memiliki sangat banyak sekali bahan-bahan untuk diangkat menjadi tulisan.

Taufik Efendi Ariya
– Generasi muda jangan terlena dengan kemajuan zaman sekarang ini. generasi muda harus mulai menorehkan karyanya. Sebab dengan berkarya kita telah memperpanjang usia dan sekaligus menjaga tradisi berliterasi. Maka mulailah dengan membaca.

 


++ Lainnya »

++ Indeks »