Bisnis  RDK Gandeng Saudagar Melayu Budaya  Lingga, Jejak dan Warisanya dalam Tamaddun Melayu Jurnalistik  Nilai Seorang Wartawan Adalah Tulisan Sahabat  Puisi dari Komunitas Penyair Asean - Korea Aktifitas  Testimoni Untuk Buku Marhalim Zaini Profil  Sebesar Apa Naga dalam Diri Kita

Rida mungkin telah ditakdirkan menjadi Raja Media di Sumatera Bagian Utara. Sukses dengan bisnis media, Rida seperti menggelinding ke dunia bisnis .Meski begitu sibuk degan berbagai kegiatan kewartawanan dan juga bisnisnya, ternyata Rida tak pernah lepas dari dunia kesusastraan dan perhatiannya terhadap pelestarian dan pengembangan budaya Melayu
 

MAKALAH

Download

Download

Download

Home / Budaya

Catatan untuk Perhelatan Pertemuan Tamaddun Melayu di Daik Lingga, 2018

Lingga, Jejak dan Warisanya dalam Tamaddun Melayu

Senin, 20 Januari 2020 13:15 | Budaya

ilustrasi


Jejak Lingga dalam pergulatan sejarah dan perkembangan tamaddun Melayu sangat jauh dan besar,  serta sudah wujud sejak masa kemaharajaan Melayu Melaka ( 1349 - 1511 ). Lingga adalah satu negeri yg berada di bawah kekuasaan Melaka meskipun Lingga mempunyai penguasa sendiri, seorang Raja yang takluk ke Melaka.

 

Dalam buku Salalatus Salatin ( Sejarah Melayu ) karya Tun Seri Lanang diceritakan bahwa ketika Sultan Melaka Mansyursyah ( 1456-1477 ) berkunjung ke Mojopahit dia membawa sejumlah raja raja daerah taklukannya termasuk Raja Lingga.


Di era kerajaan Johor ( 1528-1722 ) sebagai penerus Melaka , Lingga juga merupakan negeri yang sangat penting dan strategis. Lingga pernah menjadi pusat pemerintahan sementara sultan  johor  Abdullah  Muayatsyah ( 1615-1623 ) Johor diserang oleh Aceh, 1617. Sekitar 5 tahun  Sultan Abdullah Muayatsyah didampingi Laksamana Tun Abdul Jamil berkerajaan di Lingga , sebelum berpindah lagi ke pulau Tembelan di laut cina selatan.

 

Bahkan Ahmad Dahlan dalam  bukunya Sejarah Melayu, menyebutkan buku Salalatus Salatin itu selesai ditulis di Lingga, 1612, jauh sebelum Aceh menyerang Johor.
Peran dan sumbangan Lingga terhadap perkembangan tamaddun Melayu makin besar di masa kerajaan Riau-Lingga ( 1722-1912), penerus kerajaan Johor, di era persebatian Melayu-Bugis. Terlebih setelah sultan Riau Lingga, Mahmud Riayatsyah ( 1671-1812) , pada  1787, menindahkan ibukota kerajaan Riau Lingga ini ke pulau Lingga. Di masa  inilah perkembangan tamadun Melayu menjadi semarak. Dari Lingga lah berbagai tradisi literasi, adat istiadat, Islam dan keunggulan tradisi lainnya muncul dan berkembang yang kemudian  menjadi warisan peradaban yang tak ternilai. Ekonomi dan perdagangan juga berkembang pesat , terutama setelah di temukan timah di pulau Singkep dan tanaman sagu di pulau Lingga yangmenjadi sumber penghidupan dan ekonomi kerajaan dan masyarakatnya.  Sultan Mahmud Riayatsyah bukan saja mampu mrmpertahankan kerajaan Riau-Lingga dari cengkraman penjajah Belanda, tetapi juga telah membangun sebuah kerajaan yang bertamaddun tinggi , tamaddun yang berteraskan budaya Melayu dan Islam. Dari sini lah tradisi literasi  seperti bahasa Melayu yang dibawa dari johor,dibesarkan, dan kemudian di bawa ke pulau Penyengat dan disempurnakan sehingga menjadi bahasa baku yang kemudian menjadi asalusul bahasa kebangsaan yaitu bahasa Indonesia. Dari Lingga lah bermula tradisi percetakan, tradisi tenun songket, pengobatan, dll

Persebatian Melayu Bugis dalam meneraju pemerintahan kerajaan Riau-Lingga ini telah mewariskan jejak sejarah dan tamaddun Melayu yang panjang, unggul dan sampai saat ini masih  bisa dilacak dan dirasakan roh dan semangatnya di Lingga, dan karenanya mereka dengan bangga menyatakan bahwa Lingga adalah Bunda Tanah Melayu. Dari sinilah tradisi  besar budaya Melayu dirawat dan dibesarkan , dan kemudian menjadi warisan yang memperkaya kebudayaan nasional Indonesia.

Perhelatan tamaddun Melayu yang dilakukan ini adalah upaya positif untuk memuliakan warisan peradaban yang ada dan terus hidup agar tetap terus memberikan sumbangannya bagi kebesaran peradaban Melayu di masa depan. 

( Rida K Liamsi )


++ Lainnya »

++ Indeks »