Bisnis  RDK Gandeng Saudagar Melayu Budaya  Lingga, Jejak dan Warisanya dalam Tamaddun Melayu Jurnalistik  Nilai Seorang Wartawan Adalah Tulisan Sahabat  Puisi dari Komunitas Penyair Asean - Korea Aktifitas  Ulang Tahun dan Menerbitkan Buku Luka Sejarah Husin Syah Profil  Sebesar Apa Naga dalam Diri Kita

Rida mungkin telah ditakdirkan menjadi Raja Media di Sumatera Bagian Utara. Sukses dengan bisnis media, Rida seperti menggelinding ke dunia bisnis .Meski begitu sibuk degan berbagai kegiatan kewartawanan dan juga bisnisnya, ternyata Rida tak pernah lepas dari dunia kesusastraan dan perhatiannya terhadap pelestarian dan pengembangan budaya Melayu
 


Home / Tulisan

Oleh: RIda K. Liamsi

Penyair Sederhana, untuk Puisi Serius

Sabtu, 25 Juli 2020 01:11 | Tulisan

Sapardi Djoko Damono - https://www.idntimes.com/


"Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah  menciptakan bayang-bayang."

Berjalan ke Arah Barat Waktu Pagi Hari
Sapardi Djoko Damono

 

 

Selamat jalan Mas Sapardi Djoko Damono. Duka yang dalam untuk dunia sastra Indonesia,  terutama dunia kepenyairan. Kepergian Mas SDD, (19 Juli 2020 dalam usia 80 tahun),  merupakan sebuah kehilangan, kepergian sosok penyair yang karya-karyanya sangat  mempengaruhi dunia kepenyairan Indonesia

Karya-karya SDD telah memberi warna tersendiri dan membawa banyak pengikut, mereka  menamakan dirinya Sapardian. Karya-karya itu menyebabkan masyarakat ramai tiba-tiba  menjadi heboh dan menyukai puisi. Puisinya Aku Ingin Mencintai Secara Sederhana  misalnya telah menjadi bagian dari keseharian.

Dikutip oleh anak muda yang sesdang jatuh cinta, dilekatkan dalam buku-buku catatan  dan dijadikan pengantar untuk surat-surat cinta. Itu juga memenuhi dinding-dinding  medsos dan menjadi bumbu percakapan yang penuh gairah. Buku puisi, Dukamu Abadi,  menjadi antologiyang paling banyak diperbincangkan dikalangan penyair.

Saya bersahabat secara empiris dengan Mas SDD, karena kammi memang tidak terlalu  akrab dan belum sempat berkenalan secara fisik.Juga tidak selalu bisa bertemu  diberbagai event sastra Indonesia

Saya pernah bertemu dan berjabat tangan dengannya. Yakni di Taman Ismail Marzukki  (TIM) beberapa tahun lalu. Ketika itu  mas SDD bersedia jadi pembicara dalam  pembahasan buku kumpulan puisi saya Tempuling. Itu terjadi di dalam acara baca puisi  tunggal saya di TIM.

Saya masih ingat sebagaian kesan Mas SDD atas puisi-puisi saya itu. Yang menurutnya  memang agak sulit dipahami karena kami dibesarkan dalam kultur yang berbeda. Ia  dibesarkan dalam budaya Jawa, sementara saya dalam budaya Melayu. Puisi-puisi saya  yang banyak menggunakan kata Melayu lama (arkais), telah menyulitkan beliau memahami  puisi-puisi itu.


Meski begitu Ma SDD dengan senang hati, tampil di pentas Gedung Graha Budaya TIM dan  membicarakan buku kumpulan puisi saya itu. Sayang makalah singkat beliau tidak sempat  saya miliki . Mungkin beliau juga sudah lupa dimana disimpannya setelah acara  tersebut.

Tapi saya bahagia karena Mas SDD mau membicarakannya, meski permintaan saya itu saya  sampaikan melalui sahabat saya Penyair Asrizal NUr yang menjadi pelaksana acara baca puisi tunggal saya itu.

Tapi  secara empiris, saya sudah mengenal penyair SDD sejak dia menerbitkan buku-buku puisinya. Atau membaca puisi-puisinya yang dipublikasi di berbagai media. Terutama dari buku-buku puisi beliau yang saya beli. Buku puisi yang selalu saya tunggu bila ada informasi Mas SDD menerbitkan buku yang baru. Atau mencari buku-buku daru itu bila misalnya Majalah berita Berita Mingguan Tempo mengumumkan buku pilihan akhir tahun dan buku Mas SDD menjadi pilihan.

Bagi saya Mas SDD adalah penyair yang sederhana, tampil khas dengan topi baretanya, dan jas longgar, tapi puisi-puisi Mas SDD adalah puisi-puisi yang ditulis secara serius. Puisi-puisi yang penuh perenungan dan puisi-puisi memberi ingatan yang kekal dan membangkitkan semangat saya untuk menulis puisi. Inspiratif dari setiap baris yang ia tulis.

Memang ada sementara pihak menyatakan bahwa Mas SDD menulis puisi-puisinya secara sederhana , terkesan seakan tidak serius dan bermain-main. KEsan begitu bahkan muncul dari beberapa statmen Mas SDD sendiridalam berbagai wawancaranya dengan berbagai media. Tapi bagi saya pernyataan Mas SDD itu lebih menunjukkan kerendahan hatinya sebagai seorang penyair besar, sementara puisi-puisinya itu tetaplah puisi-puisi yang ditulis secara serius, sungguh-sungguh.

Puisi itu dia tulis melalui sebuah proses perenungan, meskipun tentang setetes hujan, atau sehelai daun yang bergoyang dalam desau angin. Sebab tak ada puisi besar yang akan lahir dari proses penulisan dan penciptaan yang santai, sederhana dan smbil lalu. Untuk meminjam kata-kata Sutarji Calzoum Bachri, puisi yang ditulis secara berdarah-darah.

Bahwa puisi-puisi Mas SDD terkesan sederhana dengan diksi dan prasa yang mudah dipahami, itulah kehebatannya sebagai penyair, mampu menulis puisi-puisi yang memesona dengan diksi dan metafor yang sederhana, ringan ,komukatif, tapi bagi yang membacanya akan terasa sangat mengejutkan.

 

Kita tiba-tiba betapa dalam renungan yang dilakukannya untuk memilih kata-kata yang kaya, kuat dan puitis itu. Bahwa kemudian puisi-puisi itu menjadi sangat populer, mudah dipahami dan menyentuh hati siapa pun, itulah kehebatan Mas SDD sebagai seorang penyair yang mempunyai gaya dan karakter kepenyairan.

 

SDD menulis puisi yang melekat di hati semua orang. Puisi-puisi yang memberi ruang pada semangat kegembiraan, harapan dan kehidupan masa depan. Puisi-puisi yang tak membuat orang bersedih. Puisi-puisi yang bercakap-cakap dan berbisik dalam ruang kehidupan. Percakapan antara kayu dan api. Antara waktu dan abu.

 

Gaya kepenyairan yang membuat puisinya  ingin dibaca berkali-kali, berulang-ulang, yang baris-baris yang mistis, ingin disimpan di dalam satu atau bote di gawai. Inilah yang membuat penyair lain menjadi iri.

Selamat jalan Mas SDD, beristirahatlah dalam damai dan derai doa yang ditinggalkan.

Tanjungpinang, 20 Juli 2020

 

Tulisan ini terbit di Harian DI'S WAY

 

 


++ Lainnya »

++ Indeks »