Bisnis  RDK Gandeng Saudagar Melayu Budaya  Sejarah Melayu sebagai Sumber Karya Kreatif Jurnalistik  Peletak Dasar dan Pelopor Industri Pers di Indonesia Sahabat  Puisi dari Komunitas Penyair Asean - Korea Aktifitas  Karya Rida K Liamsi Jadi Acuan untuk Generasi Masa Depan Profil  Sebesar Apa Naga dalam Diri Kita

Rida mungkin telah ditakdirkan menjadi Raja Media di Sumatera Bagian Utara. Sukses dengan bisnis media, Rida seperti menggelinding ke dunia bisnis .Meski begitu sibuk degan berbagai kegiatan kewartawanan dan juga bisnisnya, ternyata Rida tak pernah lepas dari dunia kesusastraan dan perhatiannya terhadap pelestarian dan pengembangan budaya Melayu
 


Home / Budaya

Beberapa pokok pikiran

Sejarah Melayu sebagai Sumber Karya Kreatif

Kamis, 10 September 2020 14:58 | Budaya



Oleh : Rida K Liamsi


Kemaharajaan Melayu yang jatuh bangun  di kawasan jazirah tanah Melayu, sejak zaman Bentan (abad XII) sampai dengan masa Kerajaan Siak (abad 20), adalah jejak sejarah yang panjang. Sejarah politik, sosial dan juga ekonomi. Dan seperti jejak sejarah dan peradaban yang negeri lain,  Kemaharajan Melayu telah menyisakan warisan sejarah dan catatan yang sangat kaya dan penuh dinamika. Termasuk sisi romantisme,  drama dan tragedi, yang sangat elok untuk di eksplore sebagai bahan karya-karya kreatif, terutama sastera. Karya-karya sastera berbagai genre, terutama novel novel yang berlatar sejarah.

Sastera sejarah sebagai karya fiksi senantiasa  hidup dan memberi ruang  untuk meneroka jejak dan perjalanan sejarah, untuk ditelaah dan dipelajari, serta dipetik pelajaran yang berharga. Sesungguhnya, seperti kata para cerdik pandai, sejarah adalah guru yang paling bijak untuk tempat belajar. Belajar tentang makna kehidupan dalam berbagai ragamnya, dan sastera adalah karya yang dapat dengan mudah sampai ke ranjang tidur. Dan sudah ada dan berperan sejak lama, seperti hikayat, syair, pantun, dan berbagai bentuk karya kreatif lainnya. Karya-karya fiksi, namun berlatar sejarah.

Buku "Sejarah Melayu (Salalatus Salatin)" karya Tun Seri Lanang, merupakan salah satu karya teks sastera klasik yang berlatar sejarah rantau Melayu ini, yang paling  awal (abad 17) dan banyak memberi inspirasi bagi para penulis untuk menggali berbagai catatan dan cerita yang ada di dalamnya untuk menjadi karya-karya baru, dengan menyanding dan melengkapinya dengan berbagai catatan lain tentang eksistensi kemaharajaan Melayu yang pernah mencapai puncak kebesarannya di zaman Melaka (1344-1528), dan kerajaan kerajaan yang lain sebagai penerusnya (Johor, Riau, Pahang, Terengganu,  Siak, dan lainnya), meskipun SM ini tidak mencerirakan seluruh kisah perjalanan kemaharajaan ini dan penerusnya .

Cerita dan peristiwa yang didedahkan SM, memang  berakhir pada priode pemerintahan Sultan Abdullah  Muayatsyah (marhum Tembelan), dimasa akhir pengabdian Tun Seri Lanang sebagai Bendahara Seri Maharaja kerajan Johor, yang wafat dalam pengasingannnya di Simalanga, Aceh, sebagai tawanan. SM ini menjadi semacam buku induk (babon) tentang sejarah kemaharajaan Melayu, yang dimulai dari era Bukit Siguntang sampoai ke era Johor. Buku ini sudah mendedahkan sebahagian besar pejalanan sejarah bangsa Melayu , sebagai sebuah bangsa, suatu kaum, yang berhasil membangun salah sebuah tamaddun besar di dunia itu, dan jejaknya bisa terlihat dan terasa di berbagai belahan dunia. Dunia Melayu, Dunia Islam.

Sejarah Melayu ( SM )  memang karya sastera dan bukan buku sejarah. Namun saat ini banyak sejarawan yang sudah menerima karya sastera klassik seperti Sejarah Melayu, Tuhfat An Nafis, dll , sebagai sumber sejarah secunder. Karena itu, karya karya sastera yang lahir dari proses eksplorasi ide dan inspirasi dari karya karya sastera klassik ini, dapat menjadi cara untuk melakukan rekonstruksi ulang peristiwa sejarah yang sesungguhnya dengan melakukan berbagai penelitian silang dari dekumen-dekumen sejarah yang lebih akhir, sehingga karya yang lahir kemudian menjadi lebih mendekati fakta sejarah yang sebenarnya, meskipun disajikan dalam  karya fiksi.

Karya karya ini menjadi cara untuk mereduksi percampuran fakta, mitos atau legenda dan cerita rakyat lainnya yang ada dalam karya karya klassik itu, menjadi  fakta yang lebih muthahir dan bisa dirujukkan sebagai jejak sejarah yang labih mendekati kebenarannya. Novel-novel sejarah mutahir sudah mencantumkan daftar kepustakannya untuk menunjukan sumber dan referensi yang dipakai untuk menulis karya sastera itu, dan bahkan ada yang menyertakan rajah ( silsilah)  dan dekumen kesejarahan lainnya, termasuk foto-foto, untuk menunjukkan bahwa novel sejarah itu bukan semata mata rekacerita pengarangnya . Narrative History atau Cerita sejarah, kini menjadi karya yang dapat mengantar berbagai peristiwa dan catatan sejarah yang selama ini gelap, menjadi lebih terang , lebih logis, dan memiliki benang merah dengan berbagai buku sejarah ( nonfiksi ) yang sudah terbit dan beredar.

Sebuah karya sastera klasik seprerti SM, Tuhfat An Nafis, dll,  yang tarikh sejarahnya di dalamnya banyak bersandar pada tahun Hijriah, dan bahkan masih dalam “konon kabar“ nya itu, dapat direka dan direkonstruksi ulang, melalui berbagai rujukan dan bantuan tehnolgi informasi dan digitalisasi  untuk mendapatkan kebaruan faktualnya, dan hasilnya inilah yang  kemudian dipakai sebagai sandaran karya sastera. Sehingga sebuah novel sudah seakan akan sudah menjadi sebuah karya sejarah. Sebuah perbancuhan cara penulisan antara karya fiksi dan non fiksi.

Sebagai sumber dan sumur inspirasi, SM penuh dengan berbagai peristiwa yang menarik untuk dijadikan bahan untuk untuk karya fiksi sejarah. Ini yang disebut Sasterawan Hasan Junus (alm) sebagai  “bermain dengan bahan”. Cebisan-cebisan informasi, potongan potongan peristiwa, yang bisa direkontruksi ulang dalam sebuah cerita sejarah, menjadi bahan yang bersumber dari karya klassik ini. Seperti kisah Mahmudsyah Melaka, sultan terakhir Melaka, yang dalam petualangan cinta telah menyisakan  romantisme dan juga tragedi sejarah yang penuh luka, dan sejumlah pengarang telah mengangkat kisah tokoh antagonis ini ke dalam cerita atau novelnya. Seperti yang dilakukan Faisal Tehrani, novelis Malaysia, dengan novel “1512”, atau Reza Fahlefi dengan novel “Batin Hitam” nya, dll. Bahkan, bahagian dari kisah Hang Tuah dalam pengabdiannya sebagai Laksamana Melaka, telah dijadikan hikayat, yaitu “Hikayat Hang Tuah” meskipun penulisnya anonim, tapi melihat tahun hikayat itu ditulis, terbukti karya klasik  itu lahir jauh sesudah SM terbit dan selesai ditulis.

Dengan latar belakang politik dan cinta,  SM ternyata sangat kaya akan sumber atau bahan untuk diangkat menjadi novel atau genre sastera lain. Selain Kisah Mahmud dan Hang Tuah, masih banyak sisi dramatis dan tragis yang bisa diangkat. Misalnya kisah cinta Sultan Johor Muzaffarsyah, sultan Johor kedua, dengan anak seorang pembesar Pahang, yang menyisakan kisah konflik politik dan penjungkirbalikan tradisi berpemerintahan di keraajan Johor yang meneruskan tradisi Melaka. Konflik politik dengan adiknya Raja Fatimah yang menikah dengan dengan Raja Umar, Pahang, dan membuat dinasti Mahmudsyah, terpelanting dari tahta kerajan Johor, berpuluh puluh tahun, sebelum Sultan Abdullah Muayatsyah bisa naik tahta.  Sebelum tragedi pembunuhan politik di Kota Tinggi, Johor, terhadap Mahmudsyah II (Marhum mangkat dijulang).

Agak lebih awal, misalnya ada kisah cinta Sultan Mansyursyah dengan Puteri Betara Majahapit, yang mengungkapkan strategi Majapahit untuk mengasai Melaka melalui ranjang pengantin. Ini misalnya yang melahirkan pantun Melayu yang sampirannya sangat terkenal dan bernilai historis: Kalau roboh kota Melaka// Papan di Jawa kami tegakkan//. Cerita tentang Mansyursyah dan Puteri Majapahit itu,  memiliki seorang anak lelaki, dan menjadi calon pengganti Mansyursyah, karena putera sulungnya Raja Muhammad telah dihukum dan dibuang ke Pahang, karena membunuh anak Bendahara Tun Perak. Tapi, putera berdarah Mojopahit ini, yang bergelar Raja Klang itu, mati dibunuh “orang gila”.

Juga akan sangat menarik kalau terus disusur sampai ke masa awal Melaka, bagaimana seorang berdarah Rokan (Sumatera), bisa menaiki tahta Melaka, meskipun kemudian disingkirkan. Juga tentang seorang bangsawan Keling, Muni Purindam, yang bisa menjadi Bendahara Melaka setelah menikahi puteri Sultan Melaka, dan kemudian membangun dinasti Bendahara di tanah Melayu, termasuklah Tun Seri Lang, penulis SM. Keturunan Keling ini telah  menjadi penguasa di Melaka, Johor, Riau dan kerajaan penerusnya, yang pada akhirnya duduk ditahta kerajaan Melayu, dan bukan hanya sekedar Bendahara, seperti yang terjadi di kerajaan Johor dengan Sultan Abdul Jalil Riayatsyah .

Ranjang pengantin dalam SM merupakan sumur inspirasi yang tidak kering-keringnya, bahkan sampai ke era awal kerajaan Bentan. Kisah Laksamna Bentan, yang dieksplorasi dengan bagusnya oleh Hasan Junus (alm) dalam novel “Burung Tiung Seri Gading” nya, juga sebuah bukti bagaimana karya klasik dan manuskrip lama dapat menjadi sumber karya sastra kreatif yang dapat menjadi petunjuk dan sandara sejarah di masa kini. Seperti juga tentang Nara Singa, pahlawan Inderagiri, bagaimana dia memainkan peran sejarahnya di jazirah Melayu.

Sejarah Melayu, dalam konteks yang lebih luas, bukan hanya nama karya Tun Seri Lanang, terjemahan dari Salalatus Salatin, tetapi juga pengertian semua peristiwa sejarah yang ada di kawasan dunia Melayu ini, yang sudah tercatat dan menjadi karya-karya, baik buku sejarah, maupun sastera . Banyak yang karya itu kemudian menjadi sumber rujukan bagi karya-karya yang baru. Seperti Tuhfat An Nafis, baik versi Penyengat maupun versi Terengganu. Kemudian Hikayat Siak, Hikayat Abdullah, Syair Sultan Mahmud (Mahmud Muzaffar syah), dan lainnya.

Jika semua karya-karya sastera iti disatukan, disanding dan dibandingkan, maka akan ada mata rantai sejarah  kemaharaajaan Melayu yang panjang, dan dapat dikutip dan dikumpulkan dalam sebuah karya sejarah atau sastera yang lebih moderen, seperti yang dilakukan Ahmad Dahlan Phd, dengan buku sejarahnya “Sejarah Melayu”, yang coba mendedahkan tentang dunia Melayu secara lebih luas dengan berbagai ragam dan peristiwa politik, ekonomi, dan sosial. Juga buku karya sejarawan Timothy P Bernad, Pusat Kerajaan ganda, yang digali dan dikembangkan dari Hikayat Siak dan lainnya. Buku- buku ini menjadi  sumber rujukan yang mutakhir di Indonesia setidaknya.

Di Malaysia, dikabarkan, telah dilakukan berbagai upaya memperkaya khazanah kesusasteraan dan kesejarahan, dengan bahan bahan awal ini, dengan ditemukan berbagai catatan dan dekumen kesejarahan yang baru. Kerja transliterasi (alih aksara) karya-karya atau manuskript yang masih tersimpan dan belum disenbtuh, menjadi sumber pengetahuan yang lebih luas tentang dunia Melayu dan tamaddunya. Jejak dan peristiwa sejarahnya. Perlu dorongan kuat agar bahan-bahan dan catatan yang masih ada itu segera di alih aksarakan dari huruf Arab Melayu ke huruf latin, agar segera bisa dimanfaatkan sebagai sumber kepustakaan.


Banyak Kerja penerjemahan, atau alih aksara yang patut diberi penghargan dan rasa hormat, karena telah membawa dunia melayu ke dunia internasional. Seperti kerja menerjemahkan Hikayat Hang Tuah dari bahasa Melayu ke bahasa Inggeris yang dilakukan oleh Prof Mohd Haji Salleh (Malaysia), dan juga sejumlah pakar lainnya, dengan karya-karya klasik yang lain. Juga kerja keras Yayasan Karyawan, Malaysia, yang mencetak ulang buku Sejarah Melayu, Tuh Fat An Nafis, Bustanul Khatibin, dll, yang sudah dialih aksarakan, ke dalam buku buku baru yang kwalitas cetak dan kertas yang bagus dan bermutu, serta tahan berpuluh puluh tahun. Selain itu, tentu saja kerja digitalisasi naskah naskah  dan manuskript yang ada.


Wajah Melayu, jejak Tamaddun nya, memang masih banyak tersimpan dalam manuskrip manuskript lama, yang masih berserakan, atau  disimpan berbagai pihak, termasuk zuriat dan ahli waris para penguasa kerjaan-kerajaan Melayu dahulu di kawasan ini. Di Lingga, di Penyengat, dll, selain yang sudah ada di perpustakaan nasional Jakarta, di Perpustakan nasional Malaysia, dan juga yang ada di Belanda (Leiden) dan juga Inggeris, dll. Semuanya itu menunjukkan betapa Melayu itu sebuah bangsa yang besar, bertamadun tinggi, dan mewariskan dan menyumbangkan sumber sumber ilmu pengatahuan yang banyak dan beragam. Hanya bangsa yang besar, kaya, yang bisa mewariskan tamadun yang besar. Dan Bangsa Melayu, salah satu nya.

Memang, proses latinisasi semua naskah arab melayu, latinisasi bahasa Melayu, menyebabkan bangsa Melayu seakan tercerabut dari akar budayanya. Tapi sisi positifnya, proses latinisasi, baik yang dilakukan pihak Belanda, selain untuk kepentingan  mengekalakan dan memperkukuh kekuasaan penjajahan mereka di Indonesia, atau kepentingan Inggeris di Semenanjung, tetapi proses latinisasi itu pulalah, juga memberi peluang  bangsa Melayu menjadi lebih cepat  dikenal dan menjadi warga literasi dunia. Melayu bisa dibaca, Melayu bisa dipelajari, Melayu bisa ditelusuri, dan Melayu dapat memberi tahu dunia, bahwa inilah sebuah bangsa besar yang juga ikut menentukan penjalan dunia sampai hari ini, seperti dengan Kanun Melaka dalam bidang kemaritiman. Atau seperti kisah Awang alias Ernrico, seorang Melayu yang ternyata lebih awal mengelilingi dunia, di banding tokoh  pengembara Eropa yang lain.

Takkan Melayu Hilang di Dunia. Kini memang diperdebatkan lagi, apakah itu memang kata-kata sakti yang ditinggalkan Hang Tuah, sang Laksamana Melaka itu? Walahu alam bissawab. Bangsa Melayu memang sudah mengibarkan bendera kebesarannya di seluruh dunia. Membukti dia ada, dan menyumbang sesuatu bagi dunia itu. Bahasa, budaya, dan juga etika hidup yang patut dan berharga. Dan Hang Tuah itu memang sudah berlayar sampai ke Jepang, ke Parsi, pusat pusat budaya dunia. Disana dia juga, meninggalkan jejak sejarah dan juga bahasa Melayu, meski hanya sepatah  dua patah kata.

Tanjungpinang, 2020
***) Rida K Liamsi seorang budayawan Melayu.


++ Lainnya »

++ Indeks »