Bisnis  RDK Gandeng Saudagar Melayu Budaya  Sejarah Melayu sebagai Sumber Karya Kreatif Jurnalistik  Peletak Dasar dan Pelopor Industri Pers di Indonesia Sahabat  Puisi dari Komunitas Penyair Asean - Korea Aktifitas  Karya Rida K Liamsi Jadi Acuan untuk Generasi Masa Depan Profil  Sebesar Apa Naga dalam Diri Kita

Rida mungkin telah ditakdirkan menjadi Raja Media di Sumatera Bagian Utara. Sukses dengan bisnis media, Rida seperti menggelinding ke dunia bisnis .Meski begitu sibuk degan berbagai kegiatan kewartawanan dan juga bisnisnya, ternyata Rida tak pernah lepas dari dunia kesusastraan dan perhatiannya terhadap pelestarian dan pengembangan budaya Melayu
 


Home / Sastra

OLEH BAMBANG KARIYAWAN YS

Menghayati Hakikat Puisi dalam Sajak-sajak Sungai Rindu Karya Rida K Liamsi

Sabtu, 10 Oktober 2020 12:24 | Sastra



SEORANG penyair dalam menuangkan bait-bait puisinya selalu diawali dengan tersebab alasan. Tubuh puisi yang dibangun penyair akan menjadi seperti apa sangat tergantung dari alasan itu. Terkadang puisi ditulis tersebab alasan yang tersembunyi dan terkadang karena alasan yang berlaku universal. Salah satunya karena alasan kerinduan.

Rindu itu adalah energi yang menggerakkan seseorang untuk meraih sesuatu. Rindu itu memiliki kekuatan dahsyat dalam menggapai berbagai keinginan. Rasa rindu biasanya datang saat ada jarak yang memisahkan dengan orang tertentu. Meski sebagian besar orang menganggap munculnya rasa rindu adalah sesuatu yang wajar, namun menahan perasaan rindu tersebut rupanya bisa menjadi berbahaya.

Reaksi kimia di otak saat kita rindu pada seseorang dapat menjelaskan buncahan perasaan yang timbul. Banyak hal yang dilakukan atau dirasakan manusia didorong oleh proses di otak dan ini tidak disadari. Namun, bukan berarti perasaan yang muncul lewat proses di otak tersebut tidak berpengaruh pada keseharian kita.

Jika kita berhasil mengalihkan rasa rindu dengan hal-hal yang positif, bukan tak mungkin nantinya hubungan kita kedepannya akan semakin kuat. Salah satu cara mengalihkan rasa rindu adalah dengan menulis. Puisi memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada penulis untuk mengekspresikan emosi, gagasan, renungan, dan imajinasinya melalui apa yang disebut penyair Wodsworth "ruangan sempit". Dalam hal ini, puisi mampu menyampaikan pengalaman-pengalaman yang paling berkesan dan luar biasa dari penulisnya sehingga bahkan bisa membangkitkan respons yang mendalam dari pembacanya atau orang lain yang menikmatinya.

Puisi adalah salah satu jalan mencurahkan rindu. Mengalirkan kata-kata ibarat sungai yang mengalirkan rindu. Inilah yang dilakukan Rida K Liamsi dalam buku puisi terbaruya "Sungai Rindu".

Dalam buku ini ada 40 sajak, dikelompokkan dalam 4 kelompok sajak. Penyair tentu memiliki alasan tertentu dalam mengelompokkan puisi-puisinya karena bila diteliti pembaca kesulitan untuk mengkategorikan dalam sub tema yang mana. Apakah sub tema waktu penulisan, religi, sejarah, kekasih, sahabat atau ada alasan lain. Namun hal tersebut tidak terlalu prinsip, yang lebih penting lagi, bagaimana penyair dengan sangat elegan meletakkan rindu dalam lintas waktu dan peristiwa.

Rindu pada Tuhan

Kerinduan akan Tuhan menjadi tema universal penyair sebagai umat manusia. Puisi religi (profetik) merupakan bait-bait yang disusun untuk mengungkapkan sesuatu yang berbau keagamaan. Hampir sama dengan puisi-puisi genre lain, hanya kontennya lebih berbaur keTuhanan atau sufisme. Dalam Sungai Rindu, kerinduan penyair akan kehidupan religi yang lebih baik dituliskan dalam beberapa puisi berikut:


Di sajjadahku, seluruh tetes wudhukku adalah tanda seru

(Tebing Waktu (dua))

Di setanggi waktu Rajab ya Rab Aku takjub di sudut sujudku

(Di suatu Rajab, di Masjidil Aqsa)

seperti menjadi dedaunan kering di tepi pagar di ujung ranting Menunggu-Mu, sebelum dibakar

(Suatu Pagi di sebuah Beranda)


Rindu pada Kekasih

Kekasih, sebagai sebutan orang yang paling dirindu, memberikan energi terkuat untuk menuangkan aliran rindu. Segala metafora dan personifikasi dapat menjadi ide dalam bait-bait puisi yang dituangkan. Penyair menyebut kekasih dengan personifikasi dengan "matahari".

Aku telah menyacak nisan dalam ingatan dan membawa sisa rindu

(Mengenang ROSE)

Desis puisimu seperti ombak parau lukamu menyusup ke sela-sela pasir

(Inilah Desember, Matahariku)

Kau adalah sungai rindu yang aku tahu tak ada pancang yang cukup untuk menjejak palung tunggumu
(Sungai Rindu: Kepada Matahariku)

Rindu pada Sahabat

Rindu bertemu pada sahabat ataupun kerabat akan memunculkan memori yang pernah terjalin sebelumnya. Terkenang jalinan penggalan kisah antara dua sahabat. Penyair memberikan kesan lebih akan jalinan kenangan pada sahabat terbaik lewat baik lewat-lewat bait-bait kerinduan.

Aku mendengarmu dari Titipayung: Damiri Mahmud
Di Kaki Bintan, pada Setangkai Bunga Telur: RAB
Suatu Hari di Munsi: L.K Ara Seperti Elang, seperti Tun, seperti Parameswara: MHS
Berlari dan Berpuisi: Kepada Nizar dan Peppy
Gunungsahilan: TIJ
Makan Malam di Tianjin: DI



Rindu pada Sejarah

Menulis puisi bertema sejarah memerlukan kejujuran dan ketepatan menuangkan kadar fakta sejarah dalam bait-bait puisinya. Puisi-puisi bertema sejarah dalam Sungai Rindu ini diyakini sebagai proses diversifikasi kreatif penyair meramu fakta sejarah yang telah dilakukan dengan tekun. Penyair telah membuktikannya dengan menghasilkan sederet novel bertema sejarah. Pada puisi-puisi sejarah dalam Sungai Rindu ini dipetik catatan-catatan sejarah yang telah menjadi kajian sejarah, seperti:

Barang tahu Melayu semua sesungguhnya kita tak pernah menjadi bangsa pecundang

(Jejak Tapak sang Laksamana)

dan sejarahpun meriwayatkan bendera cinta tercacak di puncak rawa
di derasnya jantung Siak Seri Inderapura

(Dan Raja Kecik pun Menghunus Sundang)

Istana Kayu Ara beku dalam diam tak ada titah
tak ada amanah
Wazir bersimpuh
Laksamana mengeluh

(Virus Cinta dan Jazirah Luka)

Kini kami mengenangmu dengan puisi
pena di kanan
kata-kata di kiri
di hadapan kami bayangan cucumu

(Setelah Meriam Tanjung Butung Menggelegar, Mengenang: RHF)



Lewat puisi-puisi sejarah dalam Sungai Rindu ini kita disadarkan akan pentingn-ya menjejakkan sejarah dengan cara apapun, termasuk puisi. Seperti dalam bait berikut:

di sebuah bilik di ujung hari
seorang penyair menyim-pan puisinya dalam memori
yang melupakan sejarah akan kalah



Rindu Kenangan akan Sebuah Kota

Meninggalkan jejak kenangan akan sebuah kota tidak cukup sekedar pada selembar foto. Penyair tidak akan melewatkan lebih merindu. Kelak ketika bait-bait puisi tentang sebuah kota bisa saja menimbulkan rasa penasaran untuk mengunjunginya. Untuk membuktikan akan keindahan dan aroma peristiwa dalam puisi tersebut. Penyair memotret kota-kota yang dikunjunginya dengan memilihkan kata yang tepat pada bait-bait puisinya.

dan ingatan pada Cheng Ho
hanya tersisa pada kelenteng Sam Poh Kong
Hari ini tak ada lumpia di antara kita

(Semarang (satu))

Apa yang tersisa dari Venesia van Java?
Warisan Belanda yang dikalahkan cuaca
Dan deru ombak laut Jawa

(Semarang (dua))

Diksi Rindu Sebenar Mengalir
Penyair mengambil tema rindu dalam buku Sungai Rindu telah mempertimbangkan dengan matang. Salah satunya dengan menjadi kata tunggal rindu menjadi bercabang-cabang namun indah. Kata tunggal disandingkan dan padu padankan dengan kata lain yang memberikan sentuhan diksi yang kuat tentang rindu. Bisa kita lihat bagaimana bermain-main kata rindu menjadi:

"membawa sisa rindu, sungai rindu, di dermaga sisa rindu, kerinduan yang pahatannya di pepohonan tua, rasa rindu dan tak berdaya, merawat rindu, pemahat rindu, menjadi bubur rindu, dan lain-lain".

Belajar Merindu
Buku puisi Sungai Rindu mengajarkan kita bahwa puisi itu ibarat medium. Wadah menuangkan segala rasa rindu. Rindu Tuhan, rindu kekasih, rindu sahabat, rindu sejarah, dan aliran rindu yang lain bercampur dalam adonan kata-kata puitis.  Proses kreatif dapat bermula dari mana saja, yang penting bermuara pada kreativitas yaitu puisi yang diciptakan. Kaitan pengalaman kehidupan begitu eratnya dengan puisi yang dihasilkan seorang penyair.


penyair yang kehilangan kata-kata ditinggalkan bahasa
kehilangan tanah airnya.***

BAMBANG KARIYAWAN YS, Penyair dan Pengajar

 


++ Lainnya »

++ Indeks »